PERAN KEADILAN DAN MANFAAT PERSEPSIAN TERHADAP TINGKAT KEPUASAN DAN KOMITMEN KARYAWAN DEPARTEMEN AKUNTANSI

Keadilan Distribusi (Distributive Justice) Persepsian
Distributive Justice diturunkan dari Equity Theory (Adams, 1965). Premise equity theory mengemukakan bahwa seseorang cenderung untuk menilai status sosial mereka dengan penghasilan seperti rewards dan sumberdaya yang mereka terima (Greenberg, 1987). Pandangan lain mengenai keadilan distribusi mengacu pada kewajaran terhadap aktual outcome seperti beban kerja, penghasilan dan lain-lain yang diterima oleh seorang pekerja (Gilliland, 1993; Adams, 1965). Hal ini menunjukkan bahwa respon sikap dan perilaku terhadap penghasilan berkaitan dengan penghasilan yang didasarkan pada persepsi mengenai keadilan (Walster et al., 1978). Pendapat mengenai distributive justice terbentuk ketika suatu kelompok membandingkan penghasilan mereka dengan pihak lain (Anderson et al., 1969). Teori relative deprivation (Crosby, 1976) yang merupakan bagian dari distributive justice mengemukakan bahwa dalam konteks organisasi, individu membandingkan pembagian alokasi sumberdaya untuk mereka dengan pembagian untuk pihak lain. Persepsi selanjutnya terhadap ketidakcukupan (relative deprivation) dapat menyebabkan reaksi turunnya kepuasan dan mengurangi kinerja seseorang atau kelompok.
Keadilan Prosedural (Procedural Justice) Persepsian
Teori keadilan prosedural menguji pengaruh prosedur pengambilan suatu keputusan terhadap sikap dan perilaku (Walker, et al., 1974). Thibaut dan Walker (1975) mengemukakan bahwa proses pengambilan keputusan dapat sangat berpengaruh terhadap penerimaan mengenai hasil suatu keputusan. Oleh karena itu, ada kalanya seseorang tidak setuju dengan hasil suatu keputusan tetapi dapat menerima keputusan tersebut karena proses pengambilan keputusan yang dilakukan dengan adil. Dalam hal ini, proses yang adil menjadi norma yang diterima umum terhadap perilaku baik dalam konteks sosial maupun dalam konteks proses pengambilan keputusan organisasi.
Satu konstruk penting dalam teori keadilan prosedural adalah “process control” atau “voice effect” (Folger, 1977). Diberikannya kesempatan kepada bawahan untuk mengemukakan keinginan, opini, pandangan dan preferensi mereka sebelum suatu keputusan dibuat akan dapat meningkatkan pengertian mereka tentang proses yang adil (Brett, 1986). Secara psikologis, voice effect memberikan suatu perasaan bagi bawahan bahwa mereka turut mengendalikan hasil suatu keputusan. Penelitian terhadap orientasi pengendalian ini telah di uji di berbagai setting eksperimen yang hasilnya menunjukkan kecenderungan terhadap voice effect (Lindquist, 1995). Hal ini terutama terjadi ketika bawahan diperbolehkan berpendapat dalam proses pengambilan keputusan, sehingga sikap (seperti proses yang adil, kepuasan akan hasil, dan komitmen dengan hasil) dan respon perilaku dapat secara positif meningkat (Hunton & Beeler, 1997).
Teori Reasoned Action
Prediksi terhadap sikap dan perilaku manusia merupakan hal yang paling kompleks dan sulit dilakukan (Ajzen, 1991). Teori Reasoned Action menyatakan bahwa kecenderungan sikap mengacu pada perilaku khusus (individual prosecess) dan subjective norms (social processes) yang berinteraksi untuk mempengaruhi keinginkan beperilaku.
Subjective norms mengacu pada persepsi sosial dan tekanan organisasi untuk berkinerja kepada perilaku seseorang (Ajzen & Fishbein, 1980). Subjective norms diturunkan dari normative beliefs yang dipegang oleh oleh seseorang telah dikemukakan untuk mempengaruhi keinginan berperilaku. Motivasi seseorang untuk mengikuti ekspektasi sosial dan organisasional dipengaruhi oleh reaksi yang diharapkan oleh individu atau kelompok lainnya seperti kelompok yang setara atau superior. Dalam seting organisasi bisnis, tekanan untuk berkinerja yang diberikan dapat timbul dari bawahan, rekan sejawat dan pimpinan. Suatu situasi dapat menimbulkan subjective norms merupakan proses dimana ketika superior memonitor kinerja individu dengan tugas-tugas spesifik.
Terdapat hubungan positif antara perilaku keinginan berkinerja dengan perilaku sesungguhnya itu sendiri (Azjen&Fishbein, 1980). Monitoring oleh superior juga dapat memoderasi hubungan antara kepuasan hasil dengan keinginan berkinerja dengan tugas yang diberikan. Hal ini dapat terjadi karena individu tersebut dievaluasi setelah diawasi oleh superior. Kinerja ini dapat disebabkan karena karyawan takut diberikan hukuman jika kinerjanya buruk ataupun karena berharap akan diberikan imbalan jika kinerjanya baik.
Keadilan Persepsian, Net Perceived Benefit (NPB), Outcome Satisfaction (OS) dan Commitment to Perform (CP)
Hipotesis pertama memprediksi bahwa net perceived benefit (NPB) dari hasil keputusan memoderasi hubungan antara level dari perceived justice dan outcome satisfaction. Teori reasoned action berpasangan dengan utility theory menduga bahwa ketika persepsi justice rendah, tetapi NPB dari keputusan tinggi, maka outcome satisfaction akan tinggi dibandinggan ketika persepsi justice rendah dan NPB juga rendah. Alasannya adalah bahwa persepsi manfaat personal dari hasil keputusan akan menutupi persepsi keadilan yang rendah dan dapat meningkatkan rasa puas atas hasil keputusan tersebut. Pada akhirnya hal ini akan meningkatkan commitment to perform.
Keadilan Persepsian, Net Perceived Benefit (NPB), Commitment to Perform (CP) dan Superior Monitoring (SM)
Teori reasoned action menyatakan bahwa subjective norms (misalnya proses organisasi dari pengawasan terhadap kinerja) dapat memoderasi hubungan antara outcome satisfaction dan behavioral intentions (Fishbein&Ajzen, 1975). Pengawasan terhadap kinerja dapat terjadi melalui dua cara, yang pertama self-monitoring yaitu ketika seseorang membandingkan kinerjanya dengan pihak lain sebagai social comparison. Kedua monitoring oleh superior dapat terjadi ketika kinerja individu dibandingkan dengan standar organisasi seperti superior monitoring. Superior monitoring merupakan proses pengawasan sosial yang diintegrasikan kedalam organisasi bisnis yang dapat mengangkat tujuan bersama antara individu dan organisasi. Teori reasoned action mengemukakan bahwa meskipun outcome satisfaction dirasakan rendah, namun tekanan sosial yang cukup akan meningkatkan comitment to perform seseorang terhadap hasil keputusan. Berdasarkan uraian tersebut, studi ini menduga bahwa superior monitoring akan memoderasi hubungan antara outcome satisfaction dengan commitment to perform. Penelitian ini menghipotesiskan bahwa meskipun seseorang tidak puas dengan hasil suatu keputusan, dengan memberikan tekanan atau insentif maka individu akan termotivasi untuk berkinerja tinggi.
referensi : http://www.akuntansiku.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s