Analisis Laporan Keuangan

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Landasan utama yang melandasi segala kegiatan usaha perusahaan perbankan adalah suatu kepercayaan yang diberikan masyarakat sebagai nasabah. Sebagai suatu lembaga kepercayaan Bank dalam aktivitas operasinya lebih banyak menggunakan dana yang bersumber dari masyarakat dibandingkan dana dari para investor serta modal yang di tanamkan atau modal sendiri, yaitu dari pemilik atau pemegang saham itu sendiri. Oleh sebab itu dalam kegiatan operasinya pihak Bank harus dapat menjaga kinerja sebagai suatu fungsi dari nilai perusahaan karena apabila kinerja sebuah perusahaan meningkat pesat, maka nilai dari usahanya akan semakin tinggi. Berlaku pada Bank yang telah Go Publik serta tingginya nilai dari usaha yang dimiliki perusahaan, akan di ikuti juga oleh kenaikan harga saham dampak dari naiknya kinerja perusahaan. Akan tetapi bila terdapat penilaian buruk dari kinerja perusahaan maka secara otomatis dampak yang ditimbulkan akan menurunkan harga saham yang beredar di pasar.

Harga saham adalah nilai dari suatu saham yang mencerminkan suatu kekayaan milik perusahaan yang mengedarkan saham tersebut, dimana tingkat perubahannya ditentukan oleh penawaran dan permintaan yang terjadi di bursa saham. Tingkat keuntungan yang sangat menjanjikan di dapat baik dari deviden dan capital gain yang ada dan membuat banyak para investor tertarik untuk ikut andil dalam menginvestasikan dananya dalam bentuk saham. Akan tetapi investasi dalam bentuk saham ini juga memiliki resiko yang tinggi sesuai dengan prinsip investasi yaitu low risk return high risk high return.

Untuk menghindari resiko yang di hadapi para investor memerlukan informasi yang actual,akurat dan transparan sebelum mengambil keputusan untuk berinvestasi. Informasi tersebut dapat di peroleh oleh investor dengan melihat kinerja keuangan perusahaan yang bersangkutan yang merupakan suatu tampilan tentang kondisi keuangan perusahaan selama periode waktu tertentu. Menurut keputusan Menteri Keuangan No.740/KMK.00/1989 yang dimaksud dengan kinerja adalah prestasi yang dicapai oleh perusahaan dalam periode tertentu hal tersebut dapat menggambarkan kondisi perusahaan yang bersangkutan.

Keputusan investor untuk berinvestasi dalam bentuk saham, ini sangat erat kaitannya dengan kinerja keuangan perusahaan yang bersangkutan, sehingga dalam prakteknya harga saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan. Selain dari itu beberapa faktor lain seperti faktor mikro serta faktor makro juga turut mempengaruhi keputusan investor dalam melakukan transaksi jual beli saham. Faktor mikro merupakan faktor internal perusahaan yang mempengaruhi transaksi perdagangan saham seperti harga saham,tingkat keuntungan yang diperoleh,tingkat resiko ,kinerja perusahaan dan corporate action yang dilakukan perusahaan tersebut. Sedangkan faktor makro merupakan faktor eksternal perusahaan yang meliputi tingkat perkembangan inflansi,kurs rupiah serta keadaan perekonomian dan kondisi social politik Negara. Ukuran yang secara umum dipergunakan dalam pengukuran kinerja suatu perusahaan dinyatakan dalam rasio financial. Pada perusahaan perbankan, rasio financial yang sering dipergunakan untuk mengukur tingkat kesehatan Bank seperti yang telah ditetapkan dalam surat ketetapan BI No.30/II/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 adalah rasio yang menggambarkan kondisi Capital,Asset,Management,Earning dan Liqudity yang sering dikenal dengan sebutan Rasio CAMEL.

Informasi yang dibutuhkan dalam memutuskan berinvestasi pada saham adalah informasi berupa faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham tersebut yang meliputi factor fundamental,faktor teknis,faktor social,ekonomi dan politik, terdapat dua macam analisis untuk menentukan nilai saham yaitu analisis sekuritas fundamental (fundamental security analysis) pertimbangan yang didasarkan pada kinerja perusahaan penerbit saham (tercermin dalam laporan keuangan) dan analisis teknis (technical analysis) yang cenderung mengevaluasi pergerakan harga saham di pasar bursa. Dalam perusahaan yang telah Go Publik nilai suatu perusahaan dapat dilihat dari pergerakan harga saham yang mencerminkan kinerja dari perusahaan tersebut dalam hal ini yaitu perusahaan perbankan.

Penelitian untuk menganalisis pengaruh berbagai faktor fundamental terhadap tingkat harga saham pada berbagai sektor perbankan yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya dengan menggunakan variable dependen dan variable independen yang beragam. Namun hasil akhir dari penelitian-penelitian tersebut menunjukan bahwa hanya terdapat pengaruh signifikan yang relative kecil antara kedua variable tersebut dengan melakukan penelitian tentang analisis CAR,ROA,NPM serta LDR terhadap harga saham perusahaan perbankan yang beredar di BEJ. nilai saham mewakili nilai perusahaan (kinerja keuangan) pada perusahaan perbankan Go Publik maka berdasarkan fenomena itu pula penulis tertarik untuk melakukan kajian-kajian serta penelitian lebih lanjut lagi melalui penelitian ilmiah ini dengan judul “ANALISIS PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TELAH GO PUBLIK”.

1.2  Rumusan Masalah dan Batasan Masalah

1.2.1        Rumusan Masalah

seberapa besar kinerja keuangan dapat berpengaruh terhadap harga saham perusahaan perbankan yang telah Go Publik?

1.2.2        Batasan Masalah

Untuk mendapatkan pembahasan yang lebih baik sehingga tujuan penelitian dapat tercapai maka dalam penulisan ilmiah ini penulis membatasi ruang lingkup permasalahan sebagai berikut :

  1. Perusahaan perbankan yang diteliti adalah perusahaan perbankan yang telah Go Publik.
  2. Data yang diteliti berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan yaitu periode 2007-2011

Dalam penulisan ini, penulis tidak meneliti faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi tingkat naik dan turunnya harga saham yang beredar seperti : kebijakan pemerintah,perpajakan dll dikarenakan faktor yang mempengaruhi harga saham tersebut sangat banyak serta memerlukan waktu yang cukup lama.

1.3  Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kinerja keuangan periode 2007-2011 pada perusahaan perbankan yang telah Go Publik terhadap harga saham yang beredar.

1.4  Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah:

1.4.1        manfaat praktis

  1. bagi pihak investor

penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam melakukan prediksi harga saham yang pada akhirnya dapat memberikan sumbangan informasi bagi pihak investor untuk mengambil keputusan membeli atau tidak membeli saham tersebut.

  1. Bagi pihak perbankan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi pihak manajemen perbankan dalam penetapan kebijakan yang terutama menyangkut keuangan dan kebijakan lain berdasarkan analisis rasio keuangan.

1.4.2        manfaat teoritis

  1. bagi peneliti

diharapkan penelitian ini dapat lebih memperdalam kemampuan penulis untuk mengaplikasikan teori yang telah diperoleh selama masa perkuliahan ke dalam dunia ekonomi. Selain itu melalui tulisan ini penulis juga berharap dapat memberikan pengetahuan di dalam memahami pengaruh kinerja keuangan suatu perusahaan terhadap harga saham yang beredar.

  1. Bagi peneliti lebih lanjut

Penulis berharap penelitian ini dapat dipergunakan sebagai sumber informasi dan referensi bagi penelitian selanjutnya terutama mengenai topik-topik yang bersangkutan baik yang bersifat malanjutkan maupun melengkapi.

1.5  metode penelitian

1.5.1        objek penelitian

sebagai sample penulis mengambil Bank BRI, Bank Bukopin, Bank BCA, Bank BNI dan Bank Mandiri sebagai objek penelitian. Perusahaan perbankan tersebut merupakan perusahaan perbankan yang telah Go Publik dan sahamnya telah diperjual belikan di pasar modal.

1.5.2        data dan variable penelitian

dalam tulisan ini penulis menggunakan data sekunder yaitu data yang bersumber dari objek penelitian yang ada. Selain itu untuk melengkapi informasi yang dibutuhkan untuk penyusunan penulisan ilmiah ini maka penulis juga menggunakan literature kepustakaan berupa tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan obyek penelitian.

1.5.3        metode pengumpulan data

dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data yaitu :

  1. studi kepustakaan

penulis mencari dan membaca beberapa referensi melalui buku-buku yang berkaitan dengan materi penulisan ilmiah ini.

1.5.4        alat analisis

alat analisis yang dipergunakan dalam penulisan ilmiah ini adalah :

  1. analisis deskriptif

Analisis yang menggunakan tabel untuk mengetahui hasil dari analisis yang digunakan menegenai pengaruh kinerja keuangan terhadap harga saham perusahaan perbankan yang telah Go Publik.

  1. analisis kuantitatif

menganalisis semua data yang telah diperoleh melalui perhitungan menggunakan rumus-rumus yang ada.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Sektor Perbankan

2.1.1 Sejarah Dunia Perbankan

Praktik perbankan sebenarnya sudah ada sejak zaman Babilonia, Yunani dan Romawi yang pada masa itu dimanfaatkan untuk membantu lalu lintas perdagangan. Awalnya praktik perbankan hanya terbatas pada kegiatan tukar-menukar uang yang akhirnya berkembang menjadi usaha menerima tabungan, menitipkan, ataupun meminjamkan uang dengan menetapkan atau memungut bunga pinjaman. Di zaman Babilonia (± tahun 2000 SM) kegiatan perbankan didominasi oleh transaksi pinjaman emas dan perak pada kalangan pedagang yang memerlukan dana. Transaksi tersebut memiliki tingkat bunga sebesar 20% per bulan dan bank yang melakukannya disebut Temples of Babylon.

Sementara itu di Yunani, praktik perbakan mulai berkembang sekitar tahun 500 sebelum masehi. Pada masa itu kegiatan perbankannya menerima simpanan uang dari masyarakat dan menyalurkannya kekalangan pembisnis. Melalui aktivitas ini pihak bank memperoleh pendapatan dari penarikan biaya yang dikenakan atas jasa penyimpanan yang diberikan. Pada masa Romawi, praktik perbankan meliputi aktivitas tukar-menukar uang, menerima deposito, member kredit serta melakukan transfer dana.

Era perbankan modern dimulai abad ke-16 di inggris, Belanda dan Belgia. Pihak yang terlibat dalam aktivitas perbankan zaman ini adalah konsumen, produsen serta pedagang, raja dan para petingginya dan organisasi yang membutuhkan jasa perbankan guna melancarkan kegiatannya. Pada awal masa modern, pengaturan kredit perbankan dibagi menjadi tiga yaitu pinjaman penjualan yang dikhususkan untuk pembelian hasil panen dan membantu para produsen, wesel (Bill of exchange) digunakan untuk pengiriman uang ke luar negeri dan pinjaman laut yang ditujukan untuk para pembuat kapal. Semua pinjaman tersebut merupakan pinjaman jangka pendek kecuali untuk kredit pembuatan kapal.

2.1.2 Pengertian Bank

Secara sederhana bank dapat diartikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan usahanya menghimpun dana dari masyarakat kemudian menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat disertai pemberian jasa bank lainnya. Sementara itu menurut Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk lainnya dalam rangka meninggkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Pengertian bank yang lebih teknis dapat dilihat pada surat Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 792 Tahun 1990 serta pada Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Dalam SK Menteri Keuangan RI Nomor 792 Tahun 1990 dikemukakan pengertian bank sebagai berikut : “Bank merupakan suatu badan yang kegiatannya di bidang keuangan melakukkan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan.”

Sementara itu menurut IAI dalam PSAK Nomor 31 Standar Akuntansi Keuangan (2004 : 215) “Bank adalah suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dan pihak yang memerlukan dana serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.

2.1.3 Fungsi Bank

Secara umum bank berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan. Secara lebih spesifik bank dapat berfungsi sebagai agent of trust,agent of development dan agent of services.

  1. Agent Of Trust

Kepercayaan (trust) merupakan dasar utama kegiatan perbankan, baik dalam penghimpunan maupun penyaluran dana. Masyarakat akan menitipkan dananya di bank apabila di landasi oleh adanya kepercayaan. Masyarakat percaya bahwa uangnya tidak akan disalahgunakan oleh pihak bank. Demikian pula dengan bank dalam menyalurkan dana di landasi oleh unsur kepercayaan terhadap debitor.

  1. Agent Of Development

Sektor moneter dan sektor riil dalam kegiatan perekonomian masyarakat tidak dapat dipisahkan karena kedua sektor tersebut saling mempengaruhi satu sama lainnya. Sektor riil tidak dapat bekerja dengan baik apabila sektor moneter tidak bekerja dengan baik. Tugas bank dalam penghimpunan dana, sangat diperlukan guna memperlancar kegiatan perekonomian pada sektor riil. Kegiatan yang dilakukan bank ini memungkinkan masyarakat melakukan investasi, distribusi dan konsumsi barang serta jasa dimana selalu berkaitan dengan penggunaan uang.

  1. Agent Of Service

Selain kegiatannya menghimpun dana dan menyalurkan dana, bank juga memberikan penawaran jasa perbankan lainnya kepada masyarakat. Jasa yang ditawarkan oleh bank ini erat kaintannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat secara umum. Jasa ini antara lain dapat berupa jasa pengiriman uang, penitipan barang berharga, pemberian jaminan bank dan penyelesaian tagihan.

2.1.4 Peranan Bank

Bank mempunyai peranan yang sangat penting untuk mendorong pertumbuhan perekonomian suatu bangsa (Malayu, 2004 : 2), karena bank adalah :

  1. Pengumpul dana dari masyarakat yang kelebihan dana (Surplus Spending Unit / SSU) serta penyalur kredit kepada masyarakat yang membutuhkan dana (Defisit Spending Unit / DSU).
  2. Tempat menabung yang efektif dan produktif bagi masyarakat.
  3. Sebagai pelaksana dalam memperlancar lalu lintas pembayaran dengan aman, praktis dan ekonomis.
  4. Penjamin penyelesaian perdagangaan dengan menerbitkan L/C (letter Of Credits).
  5. Penjamin penyelesaian proyek dengan menerbitkan bank garansi.

2.1.5 Jenis Perbankan

Berdasarkan Undang-Undang pokok perbankan nomor 7 tahun 1992 yang kemudian ditegaskan kembali dengan dikeluarkannya Undang-Undang RI nomor 10 tahun 1998 menurut fungsinya bank terdiri dari :

  1. Bank umum

Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sifat jasa yang diberikan adalah umum, dalam arti dapat memberikan seluruh jasa perbankan yang ada. Bank umum sering disebut bank komersil (commercial bank).

  1. Bank Perkreditan Rakyat

Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah. Dalam kegiatannya BPR tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Artinya jasa perbankan yang ditawarkan BPR jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan kegiatan atau jasa bank umum.

2.2 Pengertian Saham

Saham adalah salah satu surat berharga yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan berbentuk perseroan terbatas (emiten) yang menyatakan bahwa pemilik saham adalah juga pemilik sebagian dari perusahaan. Sementara itu menurut Koetin (1995) saham adalah hak atas sebagian dari suatu perusahaan, atau suatu bukti penyertaan serta partisipasi Dalam modal suatu perusahaan. Sedangkan Husnan (2001 : 303) menyatakan bahwa saham merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal (pihak yang memiliki kertas itu) untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya.

Darmaji (2001 : 6) menyebutkan bahwa dalam praktiknya terdapat beraneka ragam jenis saham, antara lain:

  1. Berdasarkan cara peralihan hak

Ditinjau dari cara peralihanya saham dibedakan menjadi saham atas unjuk dan saham atas nama.

  1. Berdasarkan Hak Tagihannya (Klaim)

Ditinjau dari segi manfaatnya, pada dasarnya saham dibedakan menjadi saham biasa dan saham preferen.

  1. Berdasarkan Kinerja Saham

Jika dilihat dari kinerja suatu saham yang beredar, maka saham dapat dibedakan menjadi Blue Chip Stock, Income Stock, Growth Stock, Speculative Stock dan Counter Cyctical Stock.

2.3 Harga Saham

Saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas. Harga suatu saham sangat erat hubungannya dengan harga pasar dari saham itu sendiri. Harga pasar merupakan harga perdana dari saham itu sendiri. Harga saham di bursa sangat dipengaruhi serta dikendalikan oleh kekuatan pasar. Artinya harga saham yang beredar tergantung dari kekuatan permintaan dan penawaran. Jika dilihat dari pembentukan harga saham, pasar bursa dibagi menjadi dua macam yaitu pasar regular dan pasar negoisasi atau pasar sekunder. Dalam pasar regular harga terbentuk akibat dari terjadinya proses tawar menawar (auction market) yang terjadi secara terus menerus berdasarkan kekuatan pasar. Sementara itu pada pasar negoisasi harga saham terjadi akibat adanya negoisasi antara pihak penjual dan pihak pembeli (Adiningsih, 1998).

Harga saham merupakan nilai suatu saham yang mencerminkan kekayaan perusahaan yang menerbitkan  saham tersebut. Nilai pasar dari saham adalah harga pasar dari saham itu sendiri. Menurut Horne (1997 : 5) harga pasar bertindak sebagai barometer dari kinerja bisnis. Harga pasar yang ada dapat menggambarkan seberapa baik manajemen  dalam menjalankan tugasnya atas nama para pemegang saham. Bila pemegang saham tidak puas dengan kinerja perusahaan, maka mereka dapat menjual saham yang mereka punya serta menginvestasikan uangnya pada perusahaan lain. Apabila tindakan ini dilakukan oleh pemegang saham maka akibatnya harga pasar saham akan turun.

Umumnya bila kinerja suatu perusahaan semakin banyak, maka semakin tinggi laba usahanya dan semakin banyak keuangan yang dapat dinikmati oleh pemegang saham juga semakin besar kemungkinan harga saham akan naik (Koetin, 1992). Walaupun  demikian perlu diperhatikan bahwa saham yang memiliki kinerja yang baik sekalipun harganya bisa saja turun oleh keadaan pasar.

Saham yang kinerjanya dinilai baik meskipun harganya mengalami penurunan oleh keadaan pasar yang jelek (bearish) tidak akan sampai hilang di pasar bursa. Jika kepercayaan para investor pulih atau keadaan pasar membaik (bullish) maka ada kemungkinan harga saham yang baik tadi akan kembali naik.

Menurut Ghozali dan Sugiyanto (2002 : 91-96) ada dua pendekatan yang dapat digunakan, yaitu:

  1. Analisis Fundamental

Salah satu cara yang lazim dipakai para investor dalam menilai suatu saham. Asumsi dasar analisis ini adalah bahwa harga saham tidaklah diukur dari standard harga di pasar, namun diprediksikan dahulu dengan kondisi keuangan perusahaan. Dengan adanya analisis fundamental diharapkan dapat membantu para investor untuk memperoleh informasi kondisi perusahaan yang nantinya akan menjadi milik investor bersangkutan.

Analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham dimasa yang akan datang dengan (1) mengestimate nilai faktor fundamental yang berpengaruh terhadap harga saham dimasa mendatang, (2) menerapkan hubungan berbagai variable tersebut hingga didapatkan perkiraan harga saham, model ini juga dapat disebut dengan share price forecasting model (Suad Husnan, 1998 : 299).

  1. Analisis Teknikal

Analisis teknikal merupakan metode analisis menggunakan data atau catatan pasar untuk berusaha mengakses permintaan dan penawaran suatu saham, volume perdagangan, indeks harga saham baik individual maupun gabungan, serta faktor lain yang bersifat teknis (Husnan,2001 : 338). Asumsi dasar dari analisis ini adalah harga saham terbentuk dari hasil spekulasi (Ghozali dan Sugiyanto, 2004 : 94). Kegiatan spekulasi yang terjadi menitik beratkan pada trend yang terbentuk dari harga saham di periode lalu serta tidak ada hubungannya dengan nilai intrinsik suatu saham. Kenaikan serta penurunan harga saham periode sebelumnya dipakai guna memprediksi harga saham periode berikutnya. Penganut konsep analisis ini menyatakan bahwa:

  1. Harga saham mencerminkan informasi yang relevan.
  2. Informasi tersebut ditunjukkan oleh perubahan harga saham diwaktu lalu.
  3. Perubahan harga saham mempunyai pola tertentu sehingga pola tersebut akan berulang.

Sasaran dalam analisis ini adalah ketepatan waktu dalam memprediksi pergerakan harga saham jangka pendek dari suatu saham. Oleh karena hal tersebut informasi yang berasal dari faktor yang bersifat teknis sangat penting bagi investor guna menentukan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual suatu saham.

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga Saham

Beberapa rasio keuangan yang dianggap penting menurut Kasmir (2002 : 263-288) antara lain:

  1. Rasio Likuiditas

Rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuid suatu bank. Rasio ini terdiri dari beberapa rasio yaitu: Banking Ratio,Assets to Loan Ratio, Loan to Deposit Ratio, Quick Ratio, Investing Policy Ratio, Invesment Risk Ratio, Liquidity Risk Ratio, Credit Risk Ratio, Deposit Risk Ratio.

  1. Rasio Solvabilitas

Rasio yang dipergunakan guna mengukur efesiensi bank dalam menjalankan aktivitasnya. Rasio ini terdiri dari beberapa jenis yaitu: Capital Edequacy Ratio, Primary Ratio, Risk Assets Ratio, Secondary Risk Ratio, Capital Risk Ratio.

  1. Rasio Rentabilitas

Tujuan dari rasio ini adalah mengukur efektivitas suatu bank dalam mencapai tujuannya. Rasio ini terdiri dari: Net Profit Margin, Gross Profit Margin, Laverage Multiplier, ROE, ROA, Net Income On Total Assets, Interest Margin On Loan, Assets Utilization, Rate Return On Loan, Interest Expanse Ratio, dsb.

2.5 Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan merupakan tampilan yang menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dalam mengukur berhasil atau tidaknya suatu perusahaan umumnya terfokus pada laporan keuangan yang ada, disamping menggunakan data non keuangan lain yang sifatnya hanya sebagai penunjang. Pengukuran kinerja adalah penentuan secara periodik tampilan perusahaan yang berupa kegiatan operasional, struktur oerganisasi dan karyawan berdasarkan sasaran, standard an criteria yang telah ditetapkan sebelumnya (Mulyadi, 2001 : 178). Pengukuran ini dapat digunakan perusahaan guna melakukan perbaikan atas aktivitas operasionalnya supaya mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Sementara itu bagi investor informasi tentang kinerja perusahaan bisa dipergunakan sebagai acuan mereka untuk tetap mempertahankan investasi di perusahaan tersebut atau tidak.

Kinerja keuangan pada perusahaan perbankan bisa diukur dengan memakai pendekatan analisis rasio keuangan. Bila terjadi peningkatan pada kinerja perusahaan public maka akan di ikuti pula dengan peningkatan nilai perusahaan. Dalam bursa efek hal ini akan direspon oleh pasar dalam bentuk naiknya harga saham. Sementara itu menurut IAI tahun 1996, dengan menganalisis dan mengevaluasi laporan keuangan, maka kinerja suatu perusahaan bisa diukur. Hal penting yang harus tercapai oleh suatu perusahaan adalah kinerjanya, karena hal tersebut cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya.

Dalam menilai kinerja perusahaan menurut Hanry (2007:28) yang paling berkepentingan adalah investor, manajer, kreditor, pemerintah dan masyarakat umum yang diartikan sebagai pemilik perusahaan. Mereka akan menilai perusahaan dengan ukuran keuangan tertentu sesuai dengan tujuannya. Ketentuan tingkat kesehatan bank dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai tolak ukur bagi pihak yang berkepentingan serta dimaksudkan  untuk dapat digunakan sebagai:

  1. Standar bagi manajemen bank untuk menilai apakah pengelolaan bank telah di jalankan sesuai dengan asas perbankan yang sehat serta ketentuan yang berlaku.
  2. Standar guna menetapkan arah pembinaan dan pengembangan bank baik secara individual maupun untuk industry perbankan secara keseluruhan.

Menurut Hanry (2008 : 28) pengukuran kinerja dibagi menjadi dua yaitu:

  1. Pengukuran Kinerja Konvensional

Dalam pengukuran ini pencapaian visi dan misi organisasi sebagai institusi pencipta kekayaan diukur hanya dengan menggunakan ukuran keuangan yang bertolak pada hasil akhir yang terlibat dalam suatu laporan keuangan terutama dari neraca dan laporan laba rugi yang merupakan rekaman data keuangan historis serta hasil realisasi anggaran yang merupakan refleksi dari proses operasional manajemen perusahaan.

  1. Pengukuran Kinerja Kontemporer

Terdapat dua konsep dalam pengukuran kinerja kontemporer, yaitu:

–          Economic Value Added (EVA) adalah nilai tambah ekonomis yang diciptakan perusahaan dari kegiatannya selama periode tertentu.

–          Balance Score Card (BSC) adalah suatu alat untuk mengukur kinerja eksekutif dimasa depan yang mencakup aspek keuangan dan non keuangan.

 

2.6  Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan berasal dari dua kata yaitu analisis dan laporan keuangan. Kata analisis berarti memecahkan atau menguraikan sesuatu unit menjadi berbagai unit terkecil. Sedangkan laporan keuangan secara singkat dapat diartikan sebagai kumpulan informasi suatu kinerja perusahaan yang terangkum dalam neraca, laporan laba rugi dan arus kas. Dari pengertian tersebut maka dapat diartikan bahwa analisis laporan keuangan merupakan suatu cara untuk menguraikan pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil serta melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lainnya baik antara data kuantitatif maupun nonkuntitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam, hal ini sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.

Analisis laporan keuangan merupakan alat yang dapat dipergunakan untuk membuat suatu keputusan, selain dari kegunannya juga sebagai alat untuk membantu proses penilaian dalam memproyeksikan keadaan keuangan dan hasil usaha suatu proyek atau perusahaan. Tujuan analisis laporan keuangan menurut Sofyan (1983) adalah sebagai berikut:

  1. Screening

Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui situasi dan kondisi perusahaan dari laporan keuangan tanpa harus melakukan observasi langsung ke lapangan.

  1. Under standing

Memahami perusahaan, kondisi keuangan dan hasil usahannya.

  1. Forcasting

Analisis untuk meramalkan kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan datang.

  1. Diagnosis

Analisis yang akan dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya masalah yang akan terjadi baik dalam manajemen, operasi, keuangan atau masalah lain dalam perusahaan.

  1. Evaluation

Dilakukan untuk menilai prestasi manajemen dalam mengelola perusahaan.

2.7  Permasalahan Kesehatan Bank

Aspek penting dalam analisis terhadap laporan keuangan perusahaan adalah kegunaannya untuk meramal kontinuitas atau kelangsungan hidup perusahaan. Prediksi akan suatu kontinuitas perusahaan banyak membawa dampak begitu berarti untuk semua yang berhubungan atau terlibat dalam kegiatan operasi perusahaan. Dalam praktek dan juga penelitian empiris, kesulitan keuangan pada perusahaan sulit untuk di definisikan. Kesehatan suatu perusahaan dapat dilihat dari titik sehat yang paling ekstrim sampai titik tidak sehat paling ekstrim, kesulitan jangka pendek sifatnya sementara dan kondisinya dapat dikatakan tidak terlalu parah. Biasanya penyebab kebangkrutan berasal dari serangkaian kesalahan dan kesulitan yang timbul secara bertahap. Hal ini bila tidak segera ditangani maka masalah yang ada akan berkembang menjadi kesulitan tidak solvable. Beberapa alternative perbaikan berdasarkan besar kecilnya permasalahan keuangan yang di hadapi oleh perusahaan, yaitu:

  1. Pemecahan Secara Formal

–          Bila Nilai Perusahaan > Nilai Perusahaan Dilikuidasi maka sebaiknya dilakukan reorganisasi dengan mengubah struktur modal menjadi struktur modal yang layak.

–          Apabila Nilai Perusahaan < Nilai Perusahaan Dilikuidasi maka proses likuidasi lebih baik dilakukan dengan cara menjual seluruh asset perusahaan. Hasil penjualan yang ada kemudian di distribusikan ke pemasok modal di bawah pengawasan pihak ketiga.

  1. Pemecahan Secara Informal

Dalam pemecahan secara informal prospek perusahaan di masa yang akan datang perlu diperhatikan. Apabila prospek perusahaan di masa depan dinilai cukup baik dan kesulitan keuangan yang terjadi bersifat sementara maka restrukturisasi perlu dilakukan. Namun jika kesulitan yang terjadi bersifat permanen, maka likuidasi informal adalah pilihan terbaik yang dapat dilakukan oleh perusahaan bersangkutan.

–          Restrukturisasi

Dilakukan dengan mengurangi beban yang menghimpit perusahaan.

Proses realisasinya dilakukan dengan cara:

  1. Perpanjangan (Extention), melalui cara ini kreditor bersedia memperpanjang masa jatuh tempo hutangnya.
  2. Komposisi (Composition), direalisasikan melalui perubahan nilai hutang lama.

–          Likuidasi Informal

Dalam beberapa kondisi dan situasi, likuidasi informal dapat juga dilakukan. Apabila nilai perusahaan dilikuidasi lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahaan yang berjalan terus (Going Concern) maka perusahaan sebaiknya dilikuidasi.

2.8 Analisa Rasio Keuangan

Merupakan suatu studi tentang informasi yang menggambarkan hubungan antara berbagai akun dari laporan keuangan sebagai cerminan keadaan serta hasil operasi perusahaan. Menurut L. Thian Hin dalam Inggit 2006 analisa laporan keuangan menyediakan indikator bagi investor untuk mengetahui tingkat profitabilitas, likuiditas, pendapatan, pemanfaatan asset dan kewajiban dari suatu perusahaan.

Rasio keuangan berfungsi sebagai ukuran dalam menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan. Rasio keuangan yang dimaksud dan yang berhubungan dengan kinerja perusahaan perbankan adalah CAR (Capital Adequacy Ratio), ROA (Return On Assets), NPM (Net Profit Margin), NIM (Net Interest Margin), LDR (Loan to Deposit Ratio).

2.8.1     CAR (Capital Adequacy Ratio)

Merupakan rasio yang dipakai sebagai indikator terhadap kemampuan bank menutupi penurunan aktiva akibat terjadinya berbagai kerugian atas aktiva bank dengan memakai modalnya sendiri. CAR merupakan perbandingan antara modal sendiri dengan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). CAR dirumuskan sebagai berikut:

Unsur-unsur CAR:

  1. Modal

Berbagai pos yang termasuk modal sendiri adalah :

a. Modal inti terdiri dari :

–          Modal disetor, merupakan modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya.

–          Agio saham, adalah selisih setoran modal yang diterima oleh bank akibat harga saham lebih besar dari nilai nominalnya.

–          Modal Sumbangan, diperoleh dari sumbangan saham, termasuk selisih antara nilai yang tercatat dengan harga jual bila saham tersebut dijual.

–          Cadangan umum, merupakan cadangan dari penyisihan laba ditahan atau laba bersih setelah dikurangi pajak serta memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Rapat Anggota.

–          Cadangan tertentu, bagian laba setelah dikurangi pajak yang telah disisihkan untuk tujuan tertentu.

–          Laba ditahan, saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang oleh RUPS atau rapat anggota diputuskan untuk tidak dibagikan.

–          Laba tahun lalu, merupakan selisih laba bersih tahun lalu setelah dikurangi pajak serta penggunaannya belum ditetapkan oleh RUPS atau rapat anggota.

–          Laba tahun berjalan, diperoleh dalam tahun berjalan setelah dikurangi dengan tafsiran hutang pajak.

–          Minority Interest, modal inti anak perusahaan setelah dikompensasikan dengan nilai penyertaan bank pada anak perusahaan tersebut.

b. Modal pelengkap terdiri dari :

–          Cadangan revaluasi aktiva tetap, dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap dan telah mendapat persetujuan dari Direktoral Jenderal Pajak.

–          Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan, dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan.

–          Modal kuasi (modal pinjaman), yaitu modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal atau hutang.

2. Total Loans

Merupakan jumlah kredit yang diberikan bank kepada pihak ketiga serta pihak lain yang mempunyai hubungan istimewa setelah dikurangi penyisihan penghapusan.

3. Securities (surat berharga)

Surat pengakuan hutang, wesel, saham, obligasi sekuritas kredit, atau suatu kewajiban dari penerbit dalam bentuk yang biasa diperdagangkan pada padar modal maupun pasar uang.

 

Berdasarkan SK BI No. 30/11/KEP/DIR/Tgl. 30 April 1997, nilai CAR tidak boleh kurang dari 8%. Ketentuan CAR dari Bank Indonesia adalah :

Tabel 2.1

Tingkat Capital Adequacy Ratio

Tingkat Peringkat
8% keatas Sehat
6.4 – 8% Kurang sehat
Di bawah 6.4% Tidak sehat

 

2.8.2    ROA ( Return On Assets)

Merupakan rasio keuangan yang berhubungan dengan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atau laba (profitabilitas) pada tingkat pendapatan, asset dan modal saham tertentu (Hanafi dan Halim, 2003:27). Rasio ini sangat penting, karena keuntungan yang memadai diperlukan untuk mempertahankan sumber-sumber modal bank. Secara matematis ROA dapat dirumuskan sebagai berikut:

Tingkat ROA yang baik menurut Bank Indonesia adalah di atas 1.22%. ROA berpengaruh positif terhadap harga saham, jadi semakin tinggi ROA semakin tinggi pula harga saham. Berikut ketentuan tingkat ROA dari Bank Indonesia:

Tabel 2.2

Tingkat Return On Assets

Tingkat Peringkat
Diatas 1.22% Sehat
0.99 – 1.22% Cukup sehat
0.77 – 0.99% Kurang sehat
Dibawah 0.77% Tidak sehat

 

2.8.3    NPM (Net Profit Margin)

NPM adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasional pokoknya. Rasio ini berfungsi untuk mengukur tingkat pengembalian keuntungan bersih terhadap penjualan bersihnya. Nilai NPM berada pada rentang 0 sampai 1, semakin mendekati 1 maka semakin efisien penggunaan biaya, yang berarti besarnya tingkat pengembalian keuangan (return) akan diikuti dengan tingginya harga saham.

2.8.4    NIM (Net Interest Margin)

Net Interest Margin (NIM) mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net interest income atas pengelolaan aktiva produktif. Semakin besar nilai NIM maka semakin besar pula perolehan keuntungan dari pendapatan bunga dan akan berpengaruh pada meningkatnya harga saham. Dari besarnya rasio ini maka kemampuan bank dalam memaksimalkan pengelolaan terhadap aktiva yang bersifat produktif dapat dilihat. Selain itu nilai rasio ini juga dapat dipergunakan untuk melihat besarnya perolehan pendapatan bunga bersih.

Nilai rasio NIM yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan bunga bersih atau dapat membuat pihak perbankan mampu memperbesar spread antara suku bunga kredit dengan suku bunga dana, sehingga diperoleh tanggapan positif dari pelaku pasar modal terutama dari sudut harga sahamnya. Hal ini dapat digunakan investor untuk menentukan keputusan investasi sahamnya dan investor akan cenderung memilih berinvestasi dengan melihat kondisi perusahaan yang tidak sedang bermasalah. NIM memiliki hubungan yang positif terhadap harga saham, karena semakin tinggi nilai NIM suatu bank maka semakin tinggi juga harga sahamnya. Secara matematis NIM dapat dirumuskan sebagai berikut :

2.8.5    LDR (Loan to Deposit Ratio)

LDR merupakan rasio keuangan yang berhubungan dengan aspek likuiditas. Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang harus segera dipenuhi. Likuiditas bank adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajibannya, dapat membayar kembali semua deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan oleh para debiturnya tanpa terjadi penangguhan. Dapat disimpulkan bahwa LDR merupakan rasio antara kredit dengan dana pihak ketiga. Semakin tinggi nilai rasio ini maka akan memberikan indikasi rendahnya tingkat likuiditas bank bersangkutan. Hal tersebut disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar.

Batas aman tingkat LDR yang ditetapkan Bank Indonesia adalah sebesar 110%. Tolak ukur untuk tingkat LDR yang baik m  enurut BI adalah sebagai berikut:

Tabel 2.3

Tingkat Loan to Deposit Ratio

Tingkat Peringkat
Dibawah 93.75% Sehat
93.75 – 97.5% Cukup sehat
97.5 – 101.25% Kurang sehat
Diatas 101.25% Tidak sehat

 

2.9 Kajian Penelitian Sejenis

Beberapa penelitian sebelumnya berkaitan dengan pengaruh kinerja keuangan terhadap harga saham dikemukakan sebagai berikut :

1. Hanry Dwi Purnomo (Universitas Negeri Semarang : 2006)

–          rasio CAR dan ROA berpengaruh signifikan terhadap perubahan harga saham perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ, namun rasio NIM, dan LDR tidak berpengaruh signifikan.

–          rasio NIM, dan LDR lebih dikarenakan investor cenderung lebih tertarik memperoleh keuntungan atau return berupa capital gain.

2.Fanny Roswita Ria Pasaribu (Universitas Sumatra Utara : 2007)

–     Berpendapat bahwa analisa laporan keuangan merupakan komponen penting dalam suatu perusahaan, terutama analisa rasio keuangan dimana di dalammya memuat atau menggambarkan kondisi keuangan serta hasil yang telah dicapai oleh suatu bank. Analisa rasio keuangan menjadi suatu kebutuhan bagi setiap bank oleh karena itu bank perlu mengadakan analisa terhadap data laporan keuangan dengan harapan dapat membantu para pemegang saham mendapatkan pendapatan saham yang maksimal.

 

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Dalam proses penulisan ilimiah serta penelitian ini, perusahaan yang dijadikan sebagai sampel adalah beberapa perusahaan perbankan yang telah go publik dan sahamnya telah diperjual belikan serta terdaftar di BEI. Sebagai sampel penulis menggunakan 5 bank yang telah go publik sebagai objek dalam penelitian yang dipilih secara acak.

Periodisasi data penelitian yang dipergunakan merupakan data keuangan bank-bank tersebut pada periode 2007-2011 yang penulis nilai cukup mewakili kondisi masing-masing bank pada saat itu.

  1. 2 Sejarah Singkat dan Perkembangan Objek
  2. 2.1 PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau “Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto”, suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Lembaga tersebut berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.

Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.

Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).

Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.

Tabel 3.1

Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi

PT. Bank BRI Tbk.

Posisi Nama
Dewan Komisaris :  
Presiden Komisaris Bunasor Sanim
Wakil Komisaris Mustafa Abubakar
Komisaris Independen Aviliani
Adhyaksa Dault
Ahmad Fuad
Dewan Direksi :  
Direktur Utama Sofyan Basir
Direktur Toni Soetirto
Djarot Kusumayakti
Sarwono Sudarto
Sulaiman A. Arianto
Lenny Sugihat
Randi Anto
Achmad Baiquni

 

3. 2. 2 PT.Bank BUKOPIN Tbk.

Bank Bukopin yang sejak berdirinya tanggal 10 Juli 1970 menfokuskan diri pada segmen UMKMK, saat ini telah tumbuh dan berkembang menjadi bank yang masuk ke kelompok bank menengah di Indonesia dari sisi aset. Seiring dengan terbukanya kesempatan dan peningkatan kemampuan melayani kebutuhan masyarakat yang lebih luas, Bank Bukopin telah mengembangkan usahanya ke segmen komersial dan konsumer.

Ketiga segmen ini merupakan pilar bisnis Bank Bukopin, dengan pelayanan secara konvensional maupun syariah, yang didukung oleh sistem pengelolaan dana yang optimal, kehandalan teknologi informasi, kompetensi sumber daya manusia dan praktek tata kelola perusahaan yang baik. Landasan ini memungkinkan Bank Bukopin melangkah maju dan menempatkannya sebagai suatu bank yang kredibel. Operasional Bank Bukopin kini didukung oleh lebih dari 280 kantor yang tersebar di 22 provinsi di seluruh Indonesia yang terhubung secara real time on-line. Bank Bukopin juga telah membangun jaringan micro-banking yang diberi nama “Swamitra”, yang kini berjumlah 543 outlet, sebagai wujud program kemitraan dengan koperasi dan lembaga keuangan mikro.

Dengan struktur permodalan yang semakin kokoh sebagai hasil pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) pada bulan Juli 2006, Bank Bukopin terus mengembangkan program operasionalnya dengan menerapkan skala prioritas sesuai strategi jangka pendek yang telah disusun dengan matang. Penerapan strategi tersebut ditujukan untuk menjamin dipenuhinya layanan perbankan yang komprehensif kepada nasabah melalui jaringan yang terhubung secara nasional maupun internasional, produk yang beragam serta mutu pelayanan dengan standar yang tinggi.

Keseluruhan kegiatan dan program yang dilaksanakan pada akhirnya berujung pada sasaran terciptanya citra Bank Bukopin sebagai lembaga perbankan yang terpercaya dengan struktur keuangan yang kokoh, sehat dan efisien. Keberhasilan membangun kepercayaan tersebut akan mampu membuat Bank Bukopin tetap tumbuh memberi hasil terbaik secara berkelanjutan.

Visi
Menjadi bank yang terpercaya dalam pelayanan jasa keuangan.
Misi
Memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah, turut berperan dalam pengembangan usaha menengah, kecil, mikro dan koperasi, serta meningkatkan nilai tambah investasi pemegang saham dan kesejahteraan karyawan.

Tabel 3.2

Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi

PT. Bank BUKOPIN Tbk.

Posisi Nama
Dewan Komisaris :  
Komisaris Utama Mulia Panusunan Nasution
Komisaris Iskandar Zulkarnaen Rangkuti
Komisaris Independen Syamsul effendi
Yoyok Sunaryo
Loso Judijanto
Dewan Direksi :  
Direktur Utama Glen Glenardi
Direktur Tri Joko Prihanto
Agus Hernawan
Sunaryono
Lamira Septini Parwedi
Mikrowa Kirana
Sulistyohadi DS

 

 

3. 2. 3 PT. Bank Central Asia Tbk.

PT BCA Finance berdiri pada tahun 1981 dengan nama PT Central Sari Metropolitan Leasing Corporation (CSML). Pada awal berdirinya, pemegang saham Perusahaan adalah PT Bank Central Asia dan Japan Leasing Corporation. Saat itu Perusahaan masih memfokuskan usaha pada pembiayaan komersial, seperti pembiayaan mesin-mesin produksi, alat berat dan transportasi.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 441/KMK.017/1995 tanggal 14 September 1995 dan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. KEP-034/KM.5/2006 tanggal 20 Februari 2006, Perusahaan memperoleh pembaharuan mengenai izin usaha dalam bidang usaha lembaga pembiayaan sehingga Perusahaan dapat melakukan kegiatan usaha sebagai lembaga pembiayaan yang meliputi pembiayaan konsumen, kegiatan sewa guna usaha, anjak piutang, dan usaha kartu kredit.

Selanjutnya pada tahun 2001 PT Central Sari Metropolitan Leasing berubah nama menjadi PT Central Sari Finance (CSF), diikuti dengan perubahan kepemilikan saham, dimana PT Bank Central Asia, Tbk (BCA) menjadi pemegang saham mayoritas, serta perubahan fokus usaha menjadi pembiayaan kendaraan bermotor, khususnya roda empat atau lebih. Terakhir, Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No.C-08091 HT.01.04.TH.2005, maka per tanggal 28 Maret 2005 PT Central Sari Finance telah berubah nama menjadi PT BCA Finance.

Seiring dengan perubahan nama tersebut, pertumbuhan BCA Finance pun semakin melesat tajam. Hal ini tercermin dari terus meningkatnya jumlah pelepasan pembiayaan baru dan total asset kelolaan secara signifikan. Prestasi ini tidak terlepas dari dukungan penuh yang diberikan oleh Perusahaan induk kami yaitu PT Bank Central Asia, Tbk.

Dalam bidang pembiayaan, sampai dengan saat ini Perusahaan masih tetap fokus di sektor pembiayaan mobil. Dari waktu ke waktu BCA Finance berupaya secara terus menerus untuk meningkatkan market share Perusahaan, baik dengan penerapan strategi yang tepat, melakukan ekspansi pembukaan cabang-cabang baru maupun dengan senantiasa memberikan pelayanan terbaik kepada para customernya. Perusahaan telah memiliki jaringan usaha yang relatif luas yang tersebar di berbagai kota besar di seluruh Indonesia.

Tabel 3.3

Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi

PT. Bank Central Asia Tbk.

Posisi Nama
Dewan komisaris :  
Presiden komisaris Ricki Immanuel
Komisaris Independen Sim Idrus Munandar
Adhi Gunawan Budirahardjo
Dewan Direksi :  
Direktur Utama Roni Haslim
Direktur Pelaksana Petrus S Karim
Amirdin Halim
David Pangestu

 

3. 2. 4 PT. Bank Negara Indonesia Tbk.

Sejak awal didirikan pada tanggal 5 Juli 1946, sebagai Bank Pertama yang secara resmi dimiliki Negara RI, BNI merupakan pelopor terciptanya berbagai produk & layanan jasa perbankan. BNI terus memperluas perannya, tidak hanya terbatas sebagai bank pembangunan, tetapi juga ikut melayani kebutuhan transaksi perbankan masyarakat umum dengan berbagi segmentasinya, mulai dari Bank Terapung, Bank Sarinah (bank khusus perempuan) sampai dengan Bank Bocah khusus untuk anak-anak.

Seiring dengan pertambahan usianya yang memasuki 67 tahun, BNI tetap kokoh berdiri dan siap bersaing di industri perbankan yang semakin kompetitif. Dengan semangat “Tak Henti Berkarya” BNI akan terus berinovasi dan berkreasi, tidak hanya terbatas pada penciptaan produk & layanan perbankan, bahkan lebih dari itu BNI juga bertekad untuk menciptakan “value” pada setiap karyanya.”

Berdiri sejak 1946, BNI yang dahulu dikenal sebagai Bank Negara Indonesia, merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.

Bank Negara Indonesia mulai mengedarkan alat pembayaran resmi pertama yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia, yakni ORI atau Orang Republik Indonesia, pada malam menjelang tanggal 30 Oktober 1946, hanya beberapa bulan sejak pembentukannya. Hingga kini, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Keuangan Nasional, sementara hari pendiriannya yang jatuh pada tanggal 5 Juli ditetapkan sebagai Hari Bank Nasional.

Menyusul penunjukan De Javsche Bank yang merupakan warisan dari Pemerintah Belanda sebagai Bank Sentral pada tahun 1949, Pemerintah membatasi peranan Bank Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi atau bank sentral. Bank Negara Indonesia lalu ditetapkan sebagai bank pembangunan, dan kemudian diberikan hak untuk bertindak sebagai bank devisa,

dengan akses langsung untuk transaksi luar negeri. Sehubungan dengan penambahan modal pada tahun 1955, status Bank Negara Indonesia diubah menjadi bank komersial milik pemerintah. Perubahan ini melandasi pelayanan yang lebih baik dan tuas bagi sektor usaha nasional.

Sejalan dengan keputusan penggunaan tahun pendirian sebagai bagian dari identitas perusahaan, nama Bank Negara Indonesia 1946 resmi digunakan mulai akhir tahun 1968. Perubahan ini menjadikan Bank Negara Indonesia lebih dikenal sebagai ‘BNI 46’. Penggunaan nama panggilan yang lebih mudah diingat – ‘Bank BNI’ – ditetapkan bersamaan dengan perubahaan identitas perusahaan tahun 1988.

Tahun 1992, status hukum dan nama BNI berubah menjadi PT Bank Negara Indonesia (Persero), sementara keputusan untuk menjadi perusahaan publik diwujudkan melalui penawaran saham perdana di pasar modal pada tahun 1996.

Kemampuan BNI untuk beradaptasi terhadap perubahan dan kemajuan lingkungan, sosial-budaya serta teknologi dicerminkan melalui penyempurnaan identitas perusahaan yang berkelanjutan dari masa ke masa. Hal ini juga menegaskan dedikasi dan komitmen BNI terhadap perbaikan kualitas kinerja secara terus-menerus.

Pada tahun 2004, identitas perusahaan yang diperbaharui mulai digunakan untuk menggambarkan prospek masa depan yang lebih baik, setelah keberhasilan mengarungi masa-masa yang sulit. Sebutan ‘Bank BNI’ dipersingkat menjadi ‘BNI’, sedangkan tahun pendirian – ’46’ – digunakan dalam logo perusahaan untuk meneguhkan kebanggaan sebagai bank nasional pertama yang lahir pada era Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada akhir tahun 2012, Pemerintah Republik Indonesia memegang 60% saham BNI, sementara sisanya 40% dimiliki oleh pemegang saham publik baik individu maupun institusi, domestik dan asing. Saat ini, BNI adalah bank terbesar ke-4 di Indonesia berdasarkan total aset, total kredit maupun total dana pihak ketiga. BNI menawarkan layanan jasa keuangan terpadu kepada nasabah, didukung oleh perusahaan anak: Bank BNI Syariah, BNI Multi Finance, BNI Securities dan BNI Life Insurance.

Pada akhir tahun 2012, BNI memiliki total asset sebesar Rp333,3 triliun dan mempekerjakan lebih dari 24.861 karyawan. Untuk melayani nasabahnya, BNI mengoperasikan jaringan layanan yang luas mencakup 1.585 outlet domestik dan 5 cabang luar negeri di New York, London, Tokyo, Hong Kong dan Singapura, 8.227 unit ATM milik sendiri, 42.000 EDC serta fasilitas Internet banking dan SMS banking. BNI selalu berusaha untuk menjadi bank pilihan yang menyediakan layanan prima dan solusi bernilai tambah kepada seluruh nasabah.

Berangkat dari semangat perjuangan yang berakar pada sejarahnya, BNI bertekad untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi negeri, serta senantiasa menjadi kebanggaan negara.

Keunggulan Bank BNI :

Kartu ATM : dapat diakses dmelalui  jaringan ATM BNI, ATM Bersama, Link diseluruh Indonesia 24 jam  non stop dan juga dapat diakses  melalui ATM Internasional Cirrus (termasuk uang asing Real)Sebagai Kartu Debit untuk berbelanja di merchant berlogo Maestro/MasterCard.

Bagi hasil sangat menarik/, dihitung secara harian (ditampung dalam rekening akumulasi) dan dikreditkan ke rekening penabung secara otomatis tanggal 15 dan efektif dapat digunakan tanggal 16.

Saldo dibawah saldo minimum tetap diberikan bagi hasil, Nasabah menutup rekeningnya sebelum akhir bulan, sistem menghitung keuntungan bagi hasil sampai tanggal penutupan.Pengambilan melalui teller tidak dibatasi jumlahnya, sedangkan melalui ATM BNI sebesar Rp.5 juta/hari, On-Line real time  diseluruh Cabang/Capem BNI BNI dan BNI SyariahDapat digunakan sebagai jaminan pembiayaanFasilitas Phonebanking 24 jam : layananinformasi dan mutasi rekening, layanan transaksi, layanan pengaktifan/perubahan PIN, layanan otodebet, billpayment. Dapatkan produk-produk dan layanan terbaik khusus bagi individual, hanya di BNI. Aneka produk dan layanan baik layanan Kredit, Simpanan, ataupun Treasuri, dengan manfaat maksimal dan sesuai dengan kebutuhan perbankan maupun pribadi Anda. Beberapa produk kami antara lain adalah:

BNI Card

Dengan BNI Card, nikmati kenyamanan berbelanja di jaringan toko/merchant berlogo MasterCard dengan otorisasi tandatangan, keleluasaan tarik tunai di BNI ATM, jaringan ATM Link, jaringan ATM Bersama yang tersebar di seluruh Indonesia dan jaringan ATM berlogo Cirrus di seluruh dunia serta semakin mudah melakukan pembayaran rutin bulanan di BNI ATM dan transfer antar Bank ATM Bersama. Selain itu, BNI Card sebagai akses untuk mendapatkan layanan E-Banking seperti BNI Phoneplus, BNI SMS Banking dan BNI Internet Banking.

BNI Instan

Produk dan layanan ini memfasilitasi kredit bagi Anda para pemegang Deposito, Tabungan dan Giro dari Bank BNI.

Kartu Kredit

Kartu kredit dewasa ini bukan sekedar gaya hidup tetapi merupakan kebutuhan bagi masyarakat modern untuk menunjang semua aktivitas dalam kehidupannya sehari-hari. Semua keperluan bisnis maupun pribadi, mulai dari membiayai perjalanan dinas, menjamu klien, membiayai kelahiran si kecil, hingga belanja kebutuhan harian atau berlibur bersama keluarga tercinta dapat di penuhi dengan Kartu Kredit BNI.

BNI Griya

Adalah fasilitas kredit untuk pembelian/pembangunan/renovasi rumah tinggal, rumah susun, ruko, rukan, apartemen dan rumah peristirahatan (villa) atau untuk pembelian kavling/tanah matang di real estate, kavling pemerintah atau swasta.

BNI Berbagi

BNI dan masyarakat adalah pasangan hidup yang saling memberi dan membutuhkan. Kontribusi dan harmonisasi keduanya akan menentukan keberhasilan pembangunan bangsa. Sinergi keduanya akan membawa perubahan ke arah perbaikan dan peningkatan taraf hidup masyarakat.

Tabel 3.4

Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi

PT.Bank Negara Indonesia Tbk.

Posisi Nama
Dewan Komisaris :  
Presiden Komisaris Peter B. Stok
Tirta Hidayat
Komisaris Independen Achil Ridwan
Djajadiningrat
Fero Poerbonegoro
Bangun Sarwito
Kusmuljono
Daniel T Sparringa
A. Pandu Djajanto
Dewan Direksi :  
Presiden Direktur Gatot Mudiantoro
Suwondo
Wakil Direktur Felia Salim
Direktur Yap Tjay Soen
Krishna R. Suparto
Ahdi Jumhari Luddin
Suwoko Singoastro
Honggo Widjojo
Kangmasto

 

 

3. 2. 5 PT. Bank Mandiri Tbk.

Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah — yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut memiliki peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.

Konsolidasi dan integrasi

Segera setelah merger, Bank Mandiri melaksanakan proses konsolidasi secara menyeluruh. Pada saat itu, kami menutup 194 kantor cabang yang saling berdekatan dan rasionalisasi jumlah karyawan dari jumlah gabungan 26.600 menjadi 17.620. Brand Bank Mandiri diimplementasikan ke semua jaringan dan seluruh kegiatan periklanan dan promosi lainnya. Salah satu prestasi Bank Mandiri yang paling signifikan adalah dengan mengganti platform teknologinya secara menyeluruh. Bank Mandiri mewarisi total 9 core banking system yang berbeda dari 4 bank pendahulunya. Bank Mandiri segera berinvestasi untuk mengkonsolidasikan sistem-sistem dari platform yang terkuat. Dibutuhkan tiga tahun dan dana sebesar US$ 200 Juta demi mengembangkan program untuk menggantikan core banking platform sebelumnya agar sesuai dengan standar perbankan ritel. Kini infrastruktur IT Bank Mandiri telah menyediakan system pengolahan data straigth-through dan interface yang seragam bagi pelanggannya. Sesuai dengan visi kami, Bank Mandiri memasuki segmen bisnis yang menguntungkan dan memiliki prospek tumbuh, sekaligus berperan sebagai institusi perbankan yang komprehensif. Untuk itu, Bank Mandiri berfokus pada segmen korporasi, komersial, mikro & ritel, serta pembiayaan konsumen dengan strategi yang berbeda di setiap bisnisnya dan bersinergi dengan seluruh segmen pasar yang ada. Kehadiran Bank Mandiri sebagai Bank Domestik Multispesialis di Indonesia dapat diterjemahkan ke dalam langkah-langkah khusus dengan menumbuhkan pangsa pasar dominan di segmen yang kami fokuskan. Selain itu, Bank Mandiri juga memiliki visi untuk menjadi bank terdepan di Indonesia. Sebagai bank publik, visi Bank Mandiri untuk menjadi bank blue chip publik di Asia Tenggara ini akan diukur berdasarkan kapitalisasi pasar.

Program Transformasi Tahap I (2005 – 2009)

Ambisi Bank Mandiri yang ditetapkan untuk 4 tahun ke depannya hanya dapat dicapai dengan mengubah organisasi kami untuk dapat beradaptasi dengan dinamika dan pergerakan pasar. Di tahun 2005, kami berkomitmen untuk menjalankan program transformasi selama 5 tahun untuk membentuk Bank Mandiri menjadi Bank Multispesialis yang Dominan. Kami menetapkanempat tema transformasi sebagai syarat utama: budaya, penjualan, aliansi dan kontrol NPL. Bank Mandiri melakukan Program Transformasi dalam tiga tahap, yaitu:

Tahap 1 (2006-2007)

Back on Track : Dalam tahapan ini, fokus utama kami adalah merekonstruksi ulang fondasi Bank Mandiri untuk pertumbuhan di masa depan.

Tahap 2 (2008-2009)

Outperform the Market : Dalam periode ini, Bank Mandiri lebih menekankan ekspansi bisnis untuk menjamin pertumbuhan yang signifikan di berbagai segmen dan mencapai level profit yang mampu melampaui target rata-rata pasar

Tahap 3 (2010)

Shaping the End Game : Di tahap ini, Bank Mandiri menargetkan diri untuk menjadi bank regional terdepan melalui konsolidasi dari bisnis jasa keuangan dan lebih mengutamakan peluang strategi pertumbuhan non-organik, termasuk memperkuat kinerja anak perusahaan dan akuisisi bank atau perusahaan keuangan lainnya yang dapat memberikan nilai tambah bagi Bank Mandiri

Proses transformasi yang telah dijalankan sejak tahun 2005 hingga tahun 2010 ini secara konsisten berhasil meningkatkan kinerja Bank Mandiri. Hal ini tercermin dari peningkatan berbagai parameter finansial, diantaranya:

  • Kredit bermasalah turun signifikan, tercermin dari rasio NPL net konsolidasi yang turun dari 15,34% di tahun 2005 menjadi 0,62% di tahun 2010.
  • Laba bersih Bank Mandiri juga tumbuh sangat signifikan dari Rp 0,6 Triliun di tahun 2005 menjadi Rp 9,2 Triliun di tahun 2010.

Sejalan dengan transformasi bisnis, Bank Mandiri juga melakukan transformasi budaya dengan merumuskan kembali nilai nilai budaya untuk menjadi pedoman kerja pegawai. Bank Mandiri juga berhasil mencatat sejarah dalam peningkatan kualitas layanan, yaitu menjadi service leader perbankan nasional dengan menempati urutan pertama pelayanan prima selama empat tahun berturut-turut (tahun 2007, 2008, 2009 dan 2010) berdasarkan survey Marketing Research Indonesia (MRI). Selain itu, Bank Mandiri juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak dalam penerapan Good Corporate Governance.

Peningkatan kinerja Bank Mandiri mendapatkan respon positif oleh investor, tercermin dari meningkatnya harga saham Bank Mandiri secara signifikan dari posisi terendah Rp 1.110 per lembar saham pada 16 November 2005, menjadi Rp 6.300,- per lembar saham pada 30 September 2011, atau meningkat 33,6% per tahunnya berdasarkan rata-rata (CAGR). Dalam kurun waktu kurang lebih 6 tahun, nilai kapitalisasi pasar Bank Mandiri meningkat sekitar 7 kali lipat, dari Rp 21,8 Triliun menjadi Rp 146,9 Triliun.

Program Transformasi Tahap II (2010 – 2014)

Saat ini Bank Mandiri tengah melaksanakan tahap transformasi lanjutan tahun 2010-2014, dimana kami telah melakukan revitalisasi visi, yaitu “Menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang Paling Dikagumi dan Selalu Progresif”. Sejalan dengan visi tersebut, Bank Mandiri juga ditargetkan mampu mencapai nilai kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, yaitu di atas Rp 225 Triliun dengan pangsa pasar pendapatan mendekati 16%, ROA mencapai kisaran 2,5% dan ROE mendekati 25%, namun tetap menjaga kualitas asset yang direfleksikan dari rasio NPL gross di bawah 4%. Bank Mandiri juga berambisi untuk masuk dalam jajaran Top 5 Bank di ASEAN pada tahun 2014.

Selanjutnya di tahun 2020, Bank Mandiri menargetkan untuk masuk dalam jajaran Top 3 Bank di ASEAN dalam hal nilai kapitalisasi pasar dan menjadi pemain utama di regional. Untuk mewujudkan visi tersebut, transformasi bisnis di Bank Mandiri tahun 2010 – 2014 akan difokuskan pada 3 (tiga) area bisnis yaitu:

Wholesale transaction

Bank Mandiri akan memperkuat leadership-nya dengan menawarkan solusi transaksi keuangan yang komprehensif dan membangun hubungan yang holistik melayani institusi corporate & commercial di Indonesia.

Retail deposit & payment

Bank Mandiri memiliki aspirasi untuk menjadi bank pilihan nasabah di bidang retail deposit dengan menyediakan pengalaman perbankan yang unik dan unggul bagi para nasabahnya.

Retail Financing

Bank Mandiri memiliki aspirasi untuk meraih posisi nomor 1 atau 2 dalam segmen pembiayaan ritel, terutama untuk memenangkan persaingan di bisnis kredit perumahan, personal loan, dankartu kredit serta menjadi salah satu pemain utama di micro banking.

Ketiga area fokus tersebut didukung dengan penguatan organisasi dan peningkatan infrastruktur (cabang, IT, operation dan risk management) untuk memberikan solusi layanan terpadu. Disamping itu, Bank Mandiri didukung oleh Sumber Daya Manusia yang handal, teknologi yang selalu update, penerapan manajemen risiko dalam menjalankan bisnis secara seksama dan penuh pertimbangan, serta penerapan Good Corporate Governance yang telah teruji.

Pencapaian Bank Mandiri

Hingga Desember 2011, total aset Bank Mandiri telah mencapai Rp 551,9 Triliun, dimana jumlah ini berlipat ganda dari total aset di tahun 2006 (sebesar Rp 267 Triliun), atau tumbuh 15,6% (CAGR). Ini mengukuhkan posisi Bank Mandiri sebagai bank terbesar di Indonesia. Kredit Bank Mandiri juga tumbuh menjadi Rp 314,4 Triliun, meningkat 22% (CAGR) dari kredit tahun 2006 yang sebesar Rp 118 Triliun. Sedangkan net profit kami tumbuh menjadi Rp 12,2 Triliun, meningkat 28,3% (CAGR) dari tahun 2006 yang sebesar Rp 2,4 Triliun. Selain menjadi bank pemberi pinjaman terbesar di Indonesia (secara konsolidasi), Bank Mandiri juga merupakan bank penyimpanan terbesar di Indonesia dengan dana pihak ke tiga sebesar Rp 422,3 Triliun. Bank Mandiri juga telah berhasil mempertahankan kualitas aset yang kuat, dibuktikan dengan nilai Gross dan Net NPL Ratio yang masing-masing sebesar 2,21% dan 0,52%. Salah satu momen penting dalam proses transformasi tahap 2 ini adalah suksesnya rights issue pada Februari 2011 untuk memperkuat permodalan bank. Dengan ini, modal Bank Mandiri telah mencapai Rp 62,7 Triliun, meningkat dari 48,9% tahun ke tahun dan menjadi bank pertama di Indonesia yang meraih gelar Bank Internasional, sesuai dengan Banking Architecture atau Arsitektur Perbankan Indonesia (API).

Kinerja Bank Mandiri juga didukung oleh perusahaan-perusahaan anak yang memberikan kontribusi pendapatan signifikan, yaitu sekitar 12% dari laba bersih konsolidasi Bank Mandiri. Kini Bank Mandiri memiliki jaringan ATM terbesar, yaitu sejumlah 10.000 unit yang telah terpasang dan tersebar di seluruh Indonesia. Ini menjadikan Bank Mandiri sebagai bank terbaik dalam pelayanan selama 4 tahun berturut-turut dan menjadi perusahaan yang paling terpercaya di Indonesia untuk Good Corporate Govenance selama 5 tahun berturut-turut. Setelah memenuhi berbagai persyaratan dari Bank Indonesia, Bank Mandiri kini berhak untuk menyandang titel sebagai Bank Internasional yang telah beroperasi di sektor perbankan regional dan siap menjadi bank panutan di Indonesia. Hal ini turut didukung dengan visi kami untuk menjadi Lembaga Keuangan yang Paling Dikagumi dan Paling Progresif di Indonesia.

Meningkatkan Sinergi & Nilai dari Perusahaan Anak

Untuk mendukung berbagai segmen usaha kami serta membangun budaya kerja berbasis kinerja yang kuat di seluruh organisasi, Bank Mandiri menerapkan sistem organisasi berbasis Strategic Business Unit (SBU) yang terdiri dari berbagai unit bisnis yang strategis. Unit bisnis strategis ini akan bergerak sebagai generator penghasil profit pertumbuhan Bank Mandiri di masa depan, sebagai inti dari perusahaan dan juga sebagai layanan fungsi bersama. Bank Mandiri juga didukung oleh beberapa perusahaan anak untuk meningkatkan performa unit-unit bisnis strategisnya, diantaranya Corporate Banking, Commercial Business Banking, Micro & Retail Banking, Treasury & International Banking serta Consumer Finance. Bank Mandiri senantiasa mencari peluang bisnis yang saling menguntungkan guna menciptakan sinergi, membangun aliansi sekaligus, memperkuat bisnis pendukungnya melalui perusahaan anak Bank Mandiri, diantaranya Mandiri Sekuritas yang bergerak di bidang investment banking, Mandiri AXA Financial Service yang bergerak di bidang asuransi, Bank Syariah Mandiri yang bergerak di bidang perbankan syariah, Bank Sinar Harapan Bali yang bergerak di bidang perbankan mikro dan Mandiri Tunas Finance yang bergerak di bidang multi-finance. Di tahun 2011, Bank Mandiri berhasil mengakuisisi Mandiri AXA General Insurance (MAGI), yaitu perusahaan hasil kerjasama antara Bank Mandiri dan AXA Societe Anonyme, untuk memperkuat penetrasi Bank Mandiri di bisnis asuransi umum. Dengan memiliki berbagai perusahaan anak yang mendukung bisnis kami, Bank Mandiri kini memegang peranan sebagai institusi finansial holding terkuat di Indonesia.

Tabel 3.5

Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi

PT. Bank Mandiri Tbk.

Posisi Nama
Dewan Komisaris :  
Presiden Komisaris Edwin Gerungan
Komisaris Independen Gunarni Soeworo
Pradjoto
Krisna Wijaya
Komisaris Wahyu Hidayat
Agus Suprijanto
Rudi Rubiandini
Abdul Aziz
Dewan Direksi :  
Presiden Direktur Budi Gunadi Sadikin
Wakil Direktur Utama Riswinandi
Direkur Abdul Rachman
Sentot A. Sentausa

Ogi Prastomiyono

Pahala N. Mansury
Fransisca N. Mok
Sunarso
Kresno Sediarsi
Royke Tumilaar
Heri Gunardi

 

3. 3 Data Penelitian

Menurut Bambang Supomo (1999: 146-147), data adalah sekumpulan fakta yang diperoleh melalui pengamatan (observasi) langsung atau survey. Data dapat dibedakan menjadi :

  1. Data Primer

Merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli.

  1. Data Sekunder

Merupakan data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui perantara atau didapat dari hasil catatan pihak lain.

Dalam menunjang penulisan ilmiah ini, penulis menggunakan data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung, melainkan didapat dari berbagai situs yang mempublikasikan laporan keuangan serta kinerja perusahaan yang bersangkutan. Dimana data yang didapat merupakan laporan keuangan auditan perusahaan perbankan yang telah go publik, yakni periode Desember 2007 – 2011.

3. 4 Metode Pengumpulan Data

Adapun data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah jenis data kuantitatif. Dan metode penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:

  1. Studi Pustaka (Library Research).

Dengan metode ini, semua informasi yang dibutuhkan diperoleh dari hasil pembelajaran beberapa buku serta jurnal yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan penelitian yang ada.

3. 5 Variabel Penelitian

Untuk mencapai tujuan yang ada, maka dalam penulisan ilmiah ini digunakan variabel sebagai berikut :

3. 5. 1 Variabel Dependen

Variabel dependen atau variabel terikat adalah variabel yang terpengaruh oleh variabel bebas. Dalam penelitian ini yang dipergunakan sebagai variabel dependen adalah harga saham perusahaan perbankan. Adapun harga saham yang digunakan sebagai dasar perhitungan adalah harga saham rata-rata pada saat penutupan (Closing Price) dikarenakan harga saham penutupan merupakan harga yang dihasilkan oleh interaksi pasar atas informasi yang diterima. Data yang ada diperhitungkan dari tahun 2007 – 2011.

3. 5. 2 Variabel Independen

Variabel independen atau variabel bebas merupakan variabel yang tidak terikat atau tidak dipengaruhi variabel lain namun dapat mempengaruhi variabel lain. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah kinerja keuangan perusahaan perbankan yang telah go publik dan sahamnya telah tercantum di Bursa Efek Indonesia.

Kinerja keuangan perusahaan perbankan yang menjadi variabel bebas dalam penulisan ini merupakan hasil proyeksi dari rasio keuangan CAR,ROA, NPM, NIM, dan LDR. Semua data berasal dari laporan keuangan perusahaan perbankan yang menjadi objek dalam penelitian. Berikut merupakan penjelasan mengenai rasio yang menjadi variabel bebas:

  1. CAR merupakan rasio kecukupan modal pada bank. Nilai CAR yang dipergunakan merupakan nilai CAR yang terdapat pada laporan keuangan bank.
  2. ROAdisebut juga sebagai rentabilitas ekonomi dan merupakan rasio yang digunakan untuk membandingkan net income dengan total asset untuk menghasilkan laba.
  3. NPMadalah rasio pengukur kemampuan suatu bank untuk menghasilkan pendapatan bersih (Net Income) dari kegiatan operasi yang dilakukannya.
  4. NIM merupakan rasio pengukur kemampuan manajemen suatu bank untuk menghasilkan net interest income dari pengelolaan aktiva produktifnya.
  5. LDR merupakan rasio pengukur tingkat likuiditas suatu bank. Rasio ini menggambarkan kemampuan bank untuk membayar hutangnya serta membayarnya kembali pada deposannya. Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin rendah kemampuan likuiditas bank tersebut.

3. 6  Alat Analisis yang Digunakan

Alat analisis yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini adalah analisis deskriptif Adapun analisis deskriptif merupakan analisis menggunakan rasio keuangan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan perbankan.

3. 6. 1 Analisis Deskriptif

  1. CAR (Capital Adequacy Ratio)

Merupakan rasio perbandingan antara modal sendiri dengan aktiva tertimbang menurut resiko. Perbandingan tersebut dilakukan guna mengukur kemampuan bank menutupi penurunan aktiva akibat terjadinya berbagai kerugian atas aktiva bank dengan memakai modalnya sendiri. Berikut merupakan ketentuan tingkat CAR dari Bank Indonesia.

Tabel 3.6

Tingkat Capital Adequacy Ratio

Tingkat Peringkat
8 % Keatas Sehat
6.4-8 % Kurang Sehat
Di Bawah 6.4 % Tidak Sehat

 

  1. ROA (Return On Assets)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan bank untuk memperoleh laba bersih dengan menggunakan seluruh asset yang ada. ROA diukur dengan membandingkan laba/rugi bersih dengan total assets. Ketentuan tingkat ROA dari Bank Indonesia adalah sebagai berikut:

Tabel 3.7

Tingkat Return On Assets

Tingkat Peringkat
Diatas 1.22 % Sehat
0.99-1.22 % Cukup Sehat
0.77-0.99 % Kurang Sehat
Dibawah 0.77 % Tidak Sehat

 

  1. NPM (Net Profit Margin)

merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan operasional pokoknya.  Nilai NPM berada pada rentang 0 sampai 1, semakin mendekati 1 maka semakin efisien penggunaan biaya, yang berarti besarnya tingkat pengembalian keuangan (return) akan diikuti dengan tingginya harga saham.

  1. NIM (Net Interest Margin)

Merupakan rasio pengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net interest income atas pengelolaan aktiva produktif. NIM memiliki hubungan yang positif terhadap harga saham, karena semakin tinggi nilai NIM suatu bank maka semakin tinggi juga harga sahamnya

  1. LDR (Loan to Deposit Ratio)

Merupakan rasio keuangan yang berhubungan dengan aspek likuiditas. Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang harus segera dipenuhi. LDR dapat dihitung dengan membandingkan total kredit dengan dana pihak ketiga. Berikut merupakan ketentuan tingkat LDR dari Bank Indonesia:

Tabel 3.8

Tingkat Loan to Deposit Ratio

Tingkat Peringkat
Dibawah 93.75% Sehat
93.75-97.5 % Cukup Sehat
97.5-101.25 % Kurang Sehat
Diatas 101.25 % Tidak Sehat

 

BAB IV

PEMBAHASAN

4. 1 Hasil Penelitian

4. 1. 1 CAR (Capital Adequancy Ratio)

Merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank menutupi penurunan aktiva akibat terjadinya berbagai kerugian atasaktiva bank dengan memakai modalnya sendiri. Dengan kata lain CAR adalah indikator kecukupan modal. Nilai CAR diperoleh dengan mengukur rasio antara modal bank (equity capital) dengan jumlah Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR).  Dalam penulisan ilimiah ini data diukur mulai dari tahun 2007 hingga tahun 20011. Hasil dari perhuitungan rasio CAR ini tampak dalam tabel 4.1

Tabel 4.1

Capital Adequacy Ratio

No Nama Bank Capital Adequacy Ratio % (CAR %)
2007 2008 2009 2010 2011 Rata-rata
1 PT. Bank BRI Tbk. 15.84 13.18 13.2 13.76 14.96 14.19
2 PT. Bank Bukopin Tbk. 12.84 11.20 14.36 13.02 14.33 13.15
3 PT. Bank Central Asia Tbk. 19.22 15.78 15.3 13.5 12.7 15.3
4 PT. Bank BNI Tbk. 15.74 13.47 13.78
  1. 63
17.03 15.73
5 PT. Bank Mandiri Tbk. 20.75 15.66 15.43 13.36 15.0 16.04
Rata-rata 16.88 13.86 14.41 14.45 14.80 14.90

(Sumber : Bank Indonesia, Laporan yang Diolah)

Nilai CAR yang tercantum dalam tabel merupakan hasil pengolahan penelitian yang dihitung berdasarkan data dari laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang menjadi obyek penelitian. Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai CAR tertinggi pada tahun 2007, 2008 dan 2009 dimiliki oleh PT. Bank Mandiri Tbk sebesar 20.75%, 15.66% dan 15.43%. sementara itu untuk tahun 2010 nilai CAR tertinggi dimiliki oleh PT. Bank BNI Tbk. Sebesar 18.63% dan di tahun 2011 nilai CAR tertinggi sebesar 17.03% dimiliki oleh PT. Bank BNI Tbk. PT. Bank BRI Tbk. Memiliki CAR terendah yaitu sebesar 15.84%, 13.18% dan 13.2%. Nilai CAR rata-rata tahun 2007 yaitu adalah 16.88% yang kemudian menurun di tahun 2008 menjadi 13.86%. pada tahun 2009 rata-rata nilai CAR mengalami peningkatan yaitu 14.41%. Tahun 2010 dan 2011 nilai rata-rata CAR kembali mengalami peninggkatan menjadi sebesar 14.45% dan 14.80%. perubahan nilai rata-rata CAR yang terjadi pada prusahaan perbankan dapat ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Grafik 4.1

Nilai CAR Rata-rata Tahun 2007-2011

Untuk rata-rata nilai CAR perusahaan perbankan selama lima tahun adalah sebesar  14.90%. Dari lima perusahaan perbankan yang di jadikan sebagai obyek penelitian, PT. Bank Mandiri Tbk. Adalah perusahaan perbankan pemegang nilai rata-rata CAR tertinggi. Sementara itu nilai rata-rata CAR terendah dimiliki oleh PT. Bank BRI Tbk.

4. 1. 2  ROA (Return On Assets)

Merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan atau laba (profitabilitas) dengan pemanfaatan seluruh harta atau aktiva serta sumber daya yang ada. Rasio ROA berpengaruh positif terhadap harga saham, sehingga apabila nilai ROA tinggi maka harga sahampun tinggi. Nilai ROA merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total asset. Nilai ROA dihitung dan diolah berdasarkan data laporan keuangan perusahaan perbankan mulai dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011. Hasil dari pengolahan data tersebut terlihat dalam table 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2

Return On Assets

No Nama Bank Return on Assets % (ROA %)
2007 2008 2009 2010 2011 Rata-rata
1 PT. Bank BRI Tbk. 4.61 4.18 3.73 4.64 3.20 4.07
2 PT. Bank Bukopin Tbk. 1.63 1.66 1.53 1.62 1.87 1.66
3 PT. Bank Central Asia Tbk. 3.34 3.42 3.4 3.51 2.65 3.26
4 PT. Bank BNI Tbk. 0.85 1.12 1.72 2.49 2.03 1.64
5 PT. Bank Mandiri Tbk. 2.4 2.69 2.86 3.63 2.47 2.81
Rata-rata 2.57 2.61 2.65 3.18 2.44 2.70

(Sumber : Bank Indonesia, Laporan yang Diolah)

Dari hasil pengolahan data yang ada, dapat dilihat bahwa pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 nilai ROA terbesar dimiliki oleh PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar 4,61%, 4,18%, 3,73%, 4,64% dan 3,20%. Sementara itu nilai ROA terendah sebesar 0,85%, 1,12%. untuk tahun 2007 dan 2008 dipegang oleh PT. Bank BNI Tbk. Dan di tahun 2009 nilai ROA terendah yaitu sebesar 1,53% dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Sementara itu nilai ROA terendah di tahun 2010 dan 2011 dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 1,62% dan 1,87%.

Nilai rata-rata perusahaan perbankan di tahun 2007 adalah sebesar 2,57% sampai tahun 2008, 2009 dan 2010 nilai rata-rata tersebut mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 ROA rata-rata perusahaan mengalami peninggkatan kembali menjadi sebesar 2,61%. Dan untuk tahun 2009 menjadi 2,65% yang semula tahun 2008 menjadi 2,61% dan tahun 2010 juga mengalami peninggakatan nilai rata-rata ROA menjadi 3,18% yang di mana tahun sebelumnya yaitu 2009 nilai rata-rata ROA sebesar 2,65%. Sementara itu di tahun 2011 nilai rata-rata tersebut mengalami penurunan kembali menjadi 2,44% pada tahun 2011. Perubahan nilai rata-rata ROA yang terjadi pada perusahaan perbankan dapat ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Grafik 4.2

Nilai ROA Rata-rata Tahun 2007-2011

Nilai rata-rata ROA perusahaan perbankan secara keseluruhan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 adalah sebesar 2,70%. Dari keseluruhan nilai rata-rata tersebut PT Bank BRI Tbk. Memiliki nilai rata-rata ROA terbesar yaitu sebesar 4,07%. Sementara itu nilai rata-rata ROA terendah sebesar 1,64% yang dimiliki oleh PT Bank BNI Tbk.

4. 1. 3 LDR (Loan to Deposit Ratio)

Merupakan rasio likuiditas perusahaan perbankan yang menunjukkan kemampuan bank untuk memenuhi kewajibannya yang harus segera dipenuhi. Nilai LDR diperoleh dengan membandingkan antara jumlah kredit yang diberikan (total loans) dengan jumlah dana pihak ketiga (total deposit). Nilai LDR diperhitungkan dan diukur mulai dari tahun 2007 sampai dengan 2011. Data yang dipergunakan untuk mencari nilai LDR ini adalah laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan tahun 2007 hingga tahun 2011. Berikut merupakan tabel hasil perhitungan LDR.

Table 4.3

Loan to Deposit Ratio

No Nama Bank Loan to Deposit Ratio % (LDR %)
2007 2008 2009 2010 2011 Rata-rata
1 PT. Bank BRI Tbk. 68.8 79.93 80.88 75.17 76.20 76.20
2 PT. Bank Bukopin Tbk. 65.26 83.60 84.32 71.85 85.01 78.01
3 PT. Bank Central Asia Tbk. 43.61 53.78 50.3 55.16 61.7 52.91
4 PT. Bank BNI Tbk. 60.56 68.61 64.06 70.15 70.4 66.76
5 PT. Bank Mandiri Tbk. 52.02 56.89 59.95 65.44 70.93 61.05
Rata-rata 58.05 68.56 67.90 67.55 72.84 66.98

(Sumber : Bank Indonesia, Laporan yang Diolah)

Dalam table 4.3 di atas memperlihatkan bahwa nilai LDR tertinggi tahun 2007 dimiliki oleh PT. Bank BRI Tbk. Yaitu 68,8%. Sementara itu untuk tahun 2008 dan 2009 nilai LDR tertinggi adalah sebesar 83,60% dan 84,32%. Yang dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Tahun 2010 nilai LDR tertinggi dimiliki oleh PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar 75,17%. Pada tahun 2011 nilai LDR tertinggi dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 85,01%. Perubahan nilai rata-rata LDR yang terjadi pada kelima perusahaan perbankan yang terjadi pada tahun 2007 sampai dengan 2011 dapat ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Grafik 4.3

Nilai LDR Rata-rata Tahun 2007-2011

Nilai LDR rata-rata tahun 2007 sebesar 58,05% yang kemudian mengalami peningkatan menjadi 68,56% di tahun 2008. Pada tahun 2009 dan 2010 terjadi penurunan kembali. Nilai rata-rata LDR yang semula pada tahun 2008 sebesar 68,59% terus meningkat sampai dengan tahun 2009 dan 2010 penurunan tersebut di mulai dari tahun 2009 yaitu sebesar 67,9%, 67,55%. Di tahun 2011 nilai rata-rata LDR kembali mengalami peninggkatan menjadi 72,84%. PT. Bank BUKOPIN Tbk. Memiliki rata-rata tertinggi yaitu sebesar 78,01%. Sementara itu untuk nilai LDR rata-rata terendah dimiliki oleh PT. Bank Bank Central Asia sebesar 52,91%.

Dari hasil analisis yang dilakukan dapat dikatakan bahwa tingkat LDR kelima bank tersebut secara keseluruhan telah memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Dimana ketetapan tersebut menyatakan bahwa batas aman tingkat LDR adalah sebesar 110%.

4. 1. 4 NIM (Net Interest Margin)

Net Interest Margin adalah rasio pengukur kemampuan bank untuk menghasilkan net interest income atas pengelolaan aktiva produktif. Dengan rasio ini kemampuan bank dalam memaksimalkan pengelolaan terhadap aktiva yang bersifat produktif dapat dilihat. Data dari perhitungan NIM yang ada dalam tabel 4.4 merupakan hasil dari perhitungan berdasarkan laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang menjadi objek.

Tabel 4.4

Net Interest Margin

No Nama Bank Net Interest Margin % (NIM %)
2007 2008 2009 2010 2011 Rata-rata
1 PT. Bank BRI Tbk. 10.86 9.99 8.97 10.77 9.58 10.03
2 PT. Bank Bukopin Tbk. 4.27 4.80 4.07 4.75 4.55 4.49
3 PT. Bank Central Asia Tbk. 6.09 6.55 6.4 5.29 5.7 6.00
4 PT. Bank BNI Tbk. 4.99 6.26 6.01 5.78 6.0 5.80
5 PT. Bank Mandiri Tbk. 5.2 5.48 9.95 5.39 5.82 6.36
Rata-rata 6.28 6.62 7.08 6.40 6.33 6.54

(Sumber : Bank Indonesia, Laporan yang Diolah)

Data dari perhitungan NIM yang ada di dalam tabel 4.4 merupakan hasil dari perhitungan berdasarkan laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang menjadi objek penelitian, dari tabel yang ada dapat dilihat bahwa nilai NIM terbesar untuk tahun 2007, 2008, 2009, 2010 dan 2011 dimiliki oleh PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar 10,86%, 9,99%, 8,97%, 10,77% dan 9,58%. Pada tahun 2007 nilai NIM tertinggi sebesar 10,86% yang dimiliki oleh PT. Bank BRI Tbk. Sementara itu nilai NIM terendah dari tahun 2007 dimiliki oleh PT.Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 4,27%. Pada tahun 2008 nilai NIM terendah dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 4,80%. Pada tahun 2009 nilai NIM terendah dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 4,07%. Di tahun 2010 nilai NIM terendah dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 4,75%. Dan di tahun 2011 nilai NIM terendah dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 4,55%.

Rata-rata NIM tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 tidak selalu menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2007 rata-rata NIM sebesar 6,28% yang kemudian mengalami peningkatan di tahun 2008 menjadi 6,62%. Di tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi 7,08%. Dan di tahun 2010 rata-rata NIM mengalami penurunan. Rata-rata yang semula sebesar 7,08% menurun menjadi sebesar 6,40% di tahun 2010, nilainya kembali menurun menjadi 6,33% di tahun 2011. Secara keseluruhan tingkat rata-rata NIM tertinggi dimiliki oleh PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar 10,03%. Dan untuk nilai rata-rata NIM terendah dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 4,49%. Kemudian rata-rata nilai NIM keseluruhan selama lima tahun adalah sebesar 6,54%. Perubahan tingkat nilai NIM yang terjadi per tahun dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Grafik 4.4

Nilai Rata-rata NIM Tahun 2007-2011

4. 1. 5 NPM (Net Profit Margin)

Net Profit Margin merupakan rasio keuangan yang diperoleh dengan membandingkan pendapatan bersih sebelum pajak (Net Income) dengan pendapatan operasional (Operating Income) yang diperoleh.  Data dari perhitungan NPM diambil dari laporan keuangan bank mulai dari tahun 2007 sampai tahun 2011. Hasil dari pengolahan data laporan keuangan bank menjadi nilai Net Profit Margin dapat dilihat pada table 4.5.

Tabel 4.5

Net Profit Margin

No Nama Bank Net Profit Margin% (NPM %)
2007 2008 2009 2010 2011 Rata-rata
1 PT. Bank BRI Tbk. 20.82 21.21 20.44 25.71 28.30 23.30
2 PT. Bank Bukopin Tbk. 11.70 10.94 9.82 12.85 13.56 11.77
3 PT. Bank Central Asia Tbk. 27.5 29.93 32.75 41.04 40.59 34.36
4 PT. Bank BNI Tbk. 6.04 7.35 15.86 21.77 23.82 14.97
5 PT. Bank Mandiri Tbk. 18.16 19.44 20.39 27.17 34.39 23.91
Rata-rata 16.84 17.77 19.85 25.71 28.13 21.66

(Sumber : Bank Indonesia, Laporan yang Diolah)

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa untuk tahun 2007 sampai dengan 2011 PT. Bank Central Asia Tbk. Memiliki nilai NPM tertinggi yaitu sebesar 27,5%, 29,93%, 32,75%, 41,04% dan 40,59%. Pada tahun 2007 nilai NPM terendah dimiliki oleh PT. Bank BNI Tbk. Yaitu sebesar 6,04%. Sementara itu pada tahun 2008 nilai NPM terendah yaitu sebesar 7,35% yang dimiliki oleh PT. Bank BNI Tbk. Untuk tahun 2009 yang memiliki NPM terendah adalah PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 9,82%. Pada tahun 2010 nilai NPM terendah yaitu sebesar 12,85%. Yang dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN. Pada tahun 2011 nilai NPM terendah yaitu sebesar 13,56%. Yang dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk.

Rata-rata NPM selama lima tahun mulai dari 2007 sampai dengan tahun 2011 setiap tahunnya mengalami perubahan. Pada tahun 2007 nilai rata-rata NPM adalah sebesar 16,84% dan mengalami peningkatan pada tahun 2008 menjadi sebesar 17,77%. Nilai rata-rata NPM kembali mengalami peninggkatan pada tahun 2009 yaitu sebesar 19,85%. Pada tahun 2010 dan 2011 nilai rata-rata kembali mengalami peninggkatan yaitu sebesar 25,71%. Pada tahun 2010 dan 28,13%. Di tahun 2011. Perubahan nilai rata-rata NPM pertahun yang terjadi pada perusahaan perbankan dapat ditunjukkan pada tabel grafik di bawah ini.

Grafik 4.5

Nilai Rata-rata NPM Tahun 2007-2011

Nilai NPM rata-rata selama lima tahun adalah sebesar 21,66% dan dari keseluruhan rata-rata nilai NPM, nilai NPM terbesar dimiliki oleh PT. Bank Central Asia Tbk. Yaitu sebesar 34,36%. Sementara itu nilai rata-rata NPM terendah dimiliki oleh PT. Bank BNI Tbk. Yaitu sebesar 14,97%.

4. 1. 6  Harga Saham

Pada penulisan ilimiah ini, harga saham yang digunakan adalah harga saham  rata-rata penutupan (closing price) perusahaan perbankan pertahun. Periode penelitian didasarkan pada data yang digunakan dalam analisis merupakan data historis, artinya data yang ada menggambarkan keadaan keuangan yang telah lewat dan bukan menggambarkan kondisi keuangan yang sebenarnya pada saat analisis.

Hasil harga saham rata-rata perusahaan perbankan pada periode 2007 sampai dengan 2011 tampak pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6

Harga Saham Rata-rata

No Nama Bank Harga Saham Rata-rata
2007 2008 2009 2010 2011 Rata-rata
1 PT. Bank BRI Tbk. 6191.67 5510.42 6281.25 9291.67 6158.33 6686.67
2 PT. Bank Bukopin Tbk. 598.33 357.91 327.25 592.91 661.67 507.61
3 PT. Bank Central Asia Tbk. 5939.58 3052 3777.08 5852.1 7420.83 5208.32
4 PT. Bank BNI Tbk. 2060.83 1158.33 1545 2963.75 3872.91 2320.16
5 PT. Bank Mandiri Tbk. 3164.58 2637.5 3455 5887.5 6783.33 4385.60
Rata-rata 3590.99 2543.23 3077.12 4917.59 4979.41 3821.67

(Sumber: Laporan Kinerja Perusahaan Perbankan)

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa untuk tahun 2007 yang memiliki harga saham rata-rata tertinggi adalah PT. Bank BRI Tbl. Yaitu sebesar Rp.6191,67. berikutnya pada tahun 2008 yang memiliki harga saham rata-rata tertinggi adalah PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar Rp.5510,42. Pada tahun 2009 yang memiliki harga saham rata-rata tertinggi adalah PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar Rp.6281,25. Dan untuk tahun 2010 yang memiliki harga saham rata-rata tertinggi adalah PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar Rp.9291,67 sedangkan pada tahun 2011 yang memiliki harga saham rata-rata tertinggi adalah PT. Bank Central Asia Tbk. Yaitu sebesar Rp.7420,83. Harga rata-rata tersebut merupakan harga saham rata-rata untuk per lembar saham yang beredar di pasar (bursa saham).

Sementara itu untuk harga saham rata-rata yang terendah dari tahun 2007 hingga tahun 2011 dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Harga rata-rata tersebut per-tahunnya adalah sebesar Rp.598,33, Rp.357,91, Rp.327.25, Rp.592.91 dan Rp.661.67. Harga tersebut juga merupakan harga untuk per-lembar saham yang beredar di pasar saham (bursa saham).

Grafik 4.6

Harga Saham rata-rata Tahun 2007-2011

Grafik 4.6 merupakan grafik yang menujukkan rata-rata harga saham seluruh objek penelitian selama tahun 2007 sampai dengan tahun 2011. Pada tahun 2007 rata-rata harga saham kelima perusahaan perbankan Go Publik adalah sebesar Rp.3590,99. Di tahun berikutnya harga saham rata-rata tersebut mengalami penurunan menjadi Rp.2543,23. Di tahun berikutnya harga saham rata-rata tersebut terus mengalami peninggkatan menjadi Rp.3077,12. Di tahun 2009 dan di tahun 2010 dan 2011 harga saham rata-rata tersebut mengalami peningkatan yaitu sebesar Rp.4917,59. Pada tahun 2010 dan Rp.4979,41. Pada tahun 2011.

Untuk harga saham rata-rata Bank secara keseluruhan selama lima tahun adalah sebesar Rp.3821.67. dari kelima perusahaan perbankan yang menjadi obyek penelitian yang terlihat pada tabel 4.6. dari kelima perusahaan perbankan yang menjadi obyek penelitian PT. Bank BRI Tbk. Adalah bank yang memiliki harga saham rata-rata tertinggi yaitu sebesar Rp.6686.67. sementara itu dari kelima perusahaan perbankan yang di teliti PT. Bank BUKOPIN Tbk. Memiliki harga saham rata-rata terendah yaitu sebesar Rp.507.61.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian serta hasil yang telah diperoleh maka dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut :

  1. Kinerja keuangan yang diproyeksikan dengan menggunakan rasio keuangan berupa CAR, ROA, LDR, NIM dan NPM tidak berpengaruh signifikan pada harga saham perusahaan perbankan yang telah go public. Dari tingkat persentase atau hasil rata-rata selama lima tahun secara keseluruhan dari rasio keuangan yang terdiri dari CAR tertinggi selama lima tahun yang dimiliki oleh PT. Bank Mandiri Tbk. Yaitu sebesar 16,04%. Dan tingkat hasil rata-rata dari rasio keuangan ROA tertinggi selama lima tahun yg dimiliki oleh PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar 4,07%. Dan tingkat rata-rata hasil dari rasio keuangan LDR tertinggi selama lima tahun yang dimiliki oleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar 78,01%. Dan tingkat rata-rata hasil dari rasio keuangan NIM tertinggi selama lima tahun  yang dimiliki oleh PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar 10,03%. Dan tingkat rata-rata hasil dari rasio keuangan NPM tertinggi selama lima tahun yang dimiliki oleh PT. Bank BCA Tbk. Yaitu sebesar 34,36%. Tidak berpengaruh terhadap harga saham tersebut jika kita lihat hasil rata-rata harga saham yang sudah di olah dan terdapat pada tabel 4.6 hasil harga saham rata-rata tertinggi di peroleh PT. Bank BRI Tbk. Yaitu sebesar Rp.6686.67. Dan harga saham rata-rata terendah di peroleh PT. Bank BUKOPIN Tbk. Yaitu sebesar Rp. 507,61. Besarnya pengaruh rasio keuangan tersebut disebabkan oleh faktor eksternal perusahaan yaitu tingkat perkembangan inflasi, kurs rupiah, keadaan perekonomian dan kondisi social politik Negara tersebut.

5.2 Saran

Jika dilihat dari penelitian yang ada maka diketahui bahwa harga saham tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja keuangan perusahaan saja, melainkan terdapat beberapa faktor lain diluar perusahaan yang mempengaruhinya. Oleh karena hal tersebut didalam memperkirakan pergerakan harga saham sebaiknya investor tidak hanya melalukan analisa terhadap kinerja keuangan perusahaan saja tetapi juga harus menganalisa faktor lain yang berasal dari luar perusahaan. Adapun faktor eksteren tersebut adalah hal yang berhubungan dengan transaksi perdagangan efek di pasar modal seperti inflasi, fluktuasi kurs valas, kondisi lingkungan yang mencakup kestabilan ekonomi dan politik, tingkat suku bunga dan volume transaksi. Hal tersebut dikarenakan saham perusahaan perbankan yang telah go public sangat sensitive terhadap faktor tersebut.

Sementara itu, untuk pihak perbankan yang telah go public dan sahamnya telah diperjual belikan di pasar modal hendaknya dapat lebih meninggkatkan kinerja keuangannya. Hal tersebut dikarenakan kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu dasar pertimbangan bagi pihak investor sebelum mengambil keputusan untuk investasi pada perusahaan perbankan tersebut. Kinerja keuangan perusahaan yang baik dapat memberikan dampak positif pada harga saham yang diperjual belikan.

Penulisan ilmiah ini hanya membahas tentang kajian empiris pengaruh kinerja keuangan terhadap harga saham perusahaan perbankan go public, namun tidak membahas pemecahan masalah terhadap dampak kinerja keuangan terhadap harga saham.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s